Bodoh! Deputi Penindakan KPK MInta Polisi "Bijak" Memaknai Pelaporan Atas Novel Baswedan

Berita Terkini - Dulu, waktu saya masih kuliah, saya dan keluarga pergi piknik dan menggunakan bis besar. Dari seluruh anggota keluarga, Paman saya yang menjadi Hakim Tinggi, ikut dalam rombongan. Bis disupiri oleh Paman saya yang lain. Dan satu saat, bis kami melanggar garis marka jalan, tak terputus dua berjajar, karena ingin mendahului mobil yang ada di depan bisa. Entah datang dari mana, tiba-toba ada polisi yang mengejar dan meminta bisa untuk berhenti. Paman yang menyuripi bisa ketakutan, karena dia sadar kalau dirinya melanggar. Lalu Pamanku yang hakim tinggi akhirnya turun dan menemui pak polisi. Lalu dengan sedikit congkak, Paman saya bilang, "Sudah ga usah ditilang". Lalu terdengar soal Paman yang hakim tinggi dan lain-lain. Tanpa diduga polisi yang menilang bis kami menjawab, "Sebagai Hakim Tinggi, kami yakin Bapak lebih memahami aturan dan tak seharusnya meminta kami untuk tidak menilang, atas pelanggaran yang sangat jelas..."

Saya tersenyum dan salut pada jawaban pakk polisi yang sangat cerdas, sekaligus menampar telak kedua paman saya!!

Saya langsung menghampiri paman yang hakim hanya untuk melihat dan mendengarkan lebih jelas argumen dia terhadap Pak Polisi. Dia menarik napas dalam dan bilang, "Baik. Saya minta maaf. Begini saja, kami ini sedang dalam perjalanan dari luar kota, mohon dibantu bagaimana agar bisa kami tetap menlanjutkan perjalanan dan adik saya masih tetap memegang SIM-nya". Akhirnya polisi juga melemah, lalu meminta paman yang supir bis untuk tidak lagi melakukan pelanggaran. Dia melepaskan paman saya tanpa tilang dan memberikan kembali SIM-nya, setelah paman yang hakim berjanji bahwa adiknya tidak akan lagi melakukan pelanggaran.

Sejak saat itu, saya meyakini bahwa martabat seseorang, walaupun miskin, bisa terangkat tinggi ketika dia taat pada aturan. Pada kejadian itu, saya melihat martabat pak polisi yang berpangkat garis dua, lebih tinggi dari paman saya yang seorang hakim. Sungguh satu pelajaran yang sangat berharga.

Sekarang saya menemukan berita yang menuturkan bahwa atasan Novel Baswedan siap pasang badan untuk Novel Baswedan atas pelaporan yang dilakukan oleh DPP Pemudan Pelajar dan Mahasiswa Mitra Kamtibmas atas dugaan penyebaran berita bohong di balik cuitan di akun twitternya. Dan si Deputi Penindakan KPK yang bernama Kartoyo itu menyatakan, "Prinsipnya Novel adalah anggota saya dan apapun yang terjadi saya wajib membantu, Ya. Kalau dia dilaporkan, bagi pelapor mungkin dia sah-sah saja melapor ke polisi. Tapi paling tidak, saya selaku atasa di sini mengharapkan bahwa Polri betulbetul bijak memaknai pelaporan itu".

Pada kesempatan itu, Kartoyo juga sempat menyinggung tentang hubungan KPK dan Polri. Menurutnya, hubungan kedua instansi pemerintah ini berjalan harmonis.

"Dan tentunya kalau ini memicu konflik di antara KPK dan Polri, saya rasa tidak sejauh itu. Hubungan kami sangat bagus, harmonis, sinergi dan kami saling mendukung", imbuhnya.

Saya jadi menggaris bawahi apa maksud Kartoyo ini meminta Polri untuk bijak "MEMAKNAI" laporan yang dibuat oleh DPP PPKM. Sebuah pelaporan, jika bukti dan pasalnya sudah jelas, maka hukum hanya perlu membaca dan mencocokkannya. Tidak lebih dan tidak kurang. Tapi dengan meminta Polri supaya BIJAK dalam MEMAKNAI laporan atas Novel Baswedan, ini mengidikasikan bahwa Kartoyo meminta Polri untuk MENGARTIKAN LAIN laporan DPP PPKM selain sebagai sebuah laporan pidana biasa. Bisa saja Karyoto meminta Polri untuk memandang laporan DPP PPKM itu sebagai "BIJI" yang bisa merusak hubungan KPK dan Polri yang katanya sudah sangat bagus, harmonis dan sinergi. Kalau saya menjadi pihak pelapor, saya akan memaknai kalimat dari Deputi Penindakan KPK itu sebagai sebuah ancaman pada pihak Polri.

Kasarnya, Karyoto seakan-akan mengatakan, "Laporan DPP PPKM itu cuma laporan abal-abal yang diada-adakan terhadap Novel Baswedan. Kalau Polisi memprosesnya, maka hubungan harmonis KPK dan Polri yang akan terancam".

Padahal, di mata hukum, Novel Baswedan yang posisinya sebagai Penyidik Senior KPK, SAMA DENGAN KEDUDUKAN DPP PPKM. Semua warga negara berkedudukan SAMA di mata Hukum. DPP PPKM melaporkan Novel Baswedan ke Polisi dalam kapasitas dia sebagai sesama warga. Berbeda dengan pelaporan yang dilakukan oleh GAR ITB terhadap Din Syamsudin. Din dilaporkan dalam kapasitas Din sebagai ASN.

Salah besar jika kemudian pihak KPK, dalam hal ini Deputi Penindakan KPK Karyoto, mencampur adukan posisi Novel Baswedaan sebagai warga dan sebagai penyidik senior KPK.

Kejadian cuitan Novel Baswedan di Twitter yang sudah memunculkan keresahan di tengah masyarakat Indonesia, adalah bukti ketidak mampuan Karyoto sebagai atas untuk mengontrol anak buah agar tidak mencampuri urusan Polri. Maheer itu tahanan milik kejaksaan yang dititipkan ke Bareskrim Polri. Dan itu sepenuhnya ranah Kejaksaan dan Bareskrim Polri. Sedikitpun tidak ada urusannya dengan KPK, kok Novel Baswedan nyelonong begitu saja mencampuri urusan Kejaksaan dan Polri dengan cuitannya???

Kalau saya jadi Karyoto, saya justru akan menindak Novel Baswedan secara internal karena dia sudah mencampuri urusan eksternal. Saya akan menekankan pada Novel Baswedan bahwa apa yang dia lakukan berpontensi besar merusak hubungan KPK dan Polri, yang sudah sangat bagus, harmonis dan sinergi. Bukannya saya mengancam Polri dengan komentar seperti di atas.

Hal yang demikian ini, kadang masih banyak terjadi dan dilakukan para pejabat negara. Mereka sama seperti Paman saya yang Hakim Tinggi, karena merasa menjadi Hakim Tinggi, urusan tilang dia campuri. Kalau sudah dijawab telak seperti itu oleh Polisi, yang malu kan paman saya sendiri, sampai dia minta maaf pada Polisi.

Entah namanya bodoh atau lucu kalau kita melihat ada pejabat yang tidak paham esensi dari fungsi jabatan yang dijabatnya dan masih memandang jabatan itu sebagai sebuah ketebelece. Kalau di jaman Orde Baru bisa, karena hal seperti itu sudah menjadi kebiasaan. Tapi ini jaman keterbukaan informasi, dimana Netizen +62 jauh lebih berkuasa.

No comments

Powered by Blogger.
------------------------------