Risma Bakal Mengajari Anies

Bolaklik - Kehadiran Tri Rismaharini di Ibu Kota -- sekalipun dengan status menteri sosial (mensos) -- pasti membuat Anies Baswedan galau. Sebab bukan tidak mungkin panggung Jakarta akan dikuasai oleh mantan walikota Surabaya itu. Pekerjaan Risma sebagai mensos sangat memungkinkan hal itu.

Lihat saja bagaimana Mensos Risma ketika memulai kiprahnya di Jakarta, sudah melakukan "kunjungan kerja" ke kolong jembatan. Kepada pasangan suami-istri yang tinggal di tempat yang tidak layak itu, dijanjikan Risma tempat hunian yang layak. Sekalipun demikian, Risma tetap mengingatkan mereka terus melaksanakan pekerjaannya sebagai pemulung sampah.

Betul sekali. Pemungut sampah memang bukan pekerjaan bergengsi, namun mulia. Disebut mulia karena telah turut membantu menciptakan kebersihan lingkungan walau dalam skope yang sangat kecil. Apalagi pekerjaan itu dilakukan demi menghidupi diri dan keluarganya. Jadi tidak ada alasan untuk melepas pekerjaan itu, sebelum mendapatkan pekerjaan yang lain.

Sebagai mensos, tentu tidak elok jika Risma hanya berkutat di Jakarta saja. Dia harus mengunjungi banyak kota dan tempat di republik ini, untuk melakukan hal yang sama. Mungkin minggu depan dia akan ke Medan atau Papua. Namun gebrakan perdananya di Jakarta tersebut, pasti membuat abangnye warga DKI, Anies Baswedan, merasa tertohok.

Jelas saja, sebab selama tiga tahun menjadi gubernur di DKI Jakarta, Bang Anies belum pernah masuk kolong jembatan untuk memberikan solusi soal hunian bagi warga pinggiran. Paling sewaktu wilayahnya dihajar banjir besar pada awal tahun 2020 lalu, Anies beberapa kali terjun ke masyarakat, membantu memunguti sampah banjir.

Yang lebih mengharukan, dalam suatu kesempatan di masa banjir itu, Gabener mencium tangan seorang bocah korban banjir. Plong. Pandainya abang kite mengambil hati, masyarakat pun jadi tidak punya alasan untuk memperlihatkan kegeraman hatinya terhadap penguasa kota tersebut.

Justru sebaliknya, ada sekelompok warga yang malah mensyukuri banjir besar yang menggenangi sebagian kawasan kota metropolitan itu. Alih-alih menyalahkan pemerintah kota yang "gagal" menghalau air banjir, warga itu justru mengacungkan spanduk bertuliskan: BANJIR MEMBAWA BERKAH.

Saat Risma datang ke Jakarta sebagai mensos, Anies Bas sedang cuti atau work from home karena dalam masa pemulihan setelah terpapar covid-19. Hampir satu bulan dia mendekam di rumah dinasnya tanpa ditemani istri dan anak-anak.

Syukurlah, beberapa hari lalu diberitakan bahwa kondisi gubernur yang didukung FPI di Pilkada DKI 2017 itu sudah membaik. Kabar terbaru bahkan memastikan bahwa saudara sepupu si Novel Baswedan KPK itu sudah negatif. Oleh sebab itu beliau akan segera ngantor.

Anies adalah type orang kantoran, yang lebih senang bekerja di ruangan bersih nyaman berpendingin. Ini type pejabat khas Orde Baru. Di era Pak Harto mana ada terdengar berita tentang menteri atau gubernur atau kepala daerah lainnya yang senang blusukan? Istilah ini justru mulai dikenal masyarakat setelah Jokowi menjadi gubernur DKI Jakarta.

Sifat Anies Baswedan memang bertolak belakang dengan seniornya, Jokowi, yang gemar turun ke lapangan, meninjau langsung kawasan-kawasan. Jokowi bukan type pejabat Orba yang menganut falsafah ABS (asal bapak senang). Pejabat eksekutif hanya duduk di kantor, memberi pengarahan kepada anak buahnya. Selanjutnya si pejabat tinggal menunggu lapora yang membuatnya senang.

Tapi Jokowi tidak. Dia sering "keluyuran" untuk meninjau dan menyaksikan sendiri apa dan bagaimana pekerjaan-pekerjaan itu dilakukan para bawahannya. Dia tidak puas dengan cuma mendengar atau membaca catatan laporan pekerjaan. Bila perlu, dia langsung masuk gorong-gorong untuk memastikan apakah anak buahnya telah melakukan sesuai yang dia kehendaki?

Kini, Risma sebagai mensos datang dengan karakter yang kurang-lebih sama dengan Jokowi. Bukan ujug-ujug apalagi sok-sokan. Risma sebagai walikota dikenal gemar turun ke lapangan, meninjau, membantu, sambil memarahi anak-anak buahnya.

Tapi hasilnya jelas. Kota Surabaya beberapa kali dinobatkan sebagai salah satu kota terbersih, terindah di antara beberapa kota lain di dunia. Risma sendiri tercatat pernah mendapat predikat sebagai walikota terbaik di dunia. Dan Risma tidak lantas jemawa dan menepuk dada.

Sementara Anies Baswedan, belum lama ini diviralkan sedang memajang sejumlah piagam penghargaan yang pernah dianugerahkan kepada dirinya. Menjadi lucu. Piagam atau sertifikat tidak selalu membuktikan bahwa seseorang itu berhasil dalam tugasnya. Sama dengan ijazah atau raport yang dipenuhi angka delapan sembilan, belum tentu juga pemiliknya sanggup mengejawantahkan itu dalam karya nyata.

Apalagi selama ini, rasanya kok tidak terlihat apa saja faktor pendukung yang membuat Anies layak mendapatkan ganjaran berupa piagam-piagam penghargaan bergengsi itu?

Risma di Ibu Kota, karena jabatan dan tugasnya sebagai mensos, bisa saja melakukan suatu pekerjaan yang seharusnya dikerjakan oleh Pemda DKI dan jajarannya. Seperti misalnya membenahi warga pinggiran yang selama ini bertempat tinggal di kolong-kolong jembatan, pinggri rel kereta api, bantaran kali, dan tempat-tempat tak layak lainnya.

Maka sebaiknya Anies Bas segera mengantisipasi hal ini dengan cara rajin dan rutin "keluar sarang", mendatangi dan mengunjungi warga-warga yang bermasalah sosial, dan memberikan solusi nyata bagi mereka.

Dengan kata lain, agar popularitasnya di Jakarta tidak sampai disalip Risma, Bang Anies harus berusaha mengimbangi gerak langkah Risma. Anies harus lebih dahulu bergerak sebelum ditangani Risma. Anies harus mengambil hikmah atas kehadiran Risma di Jakarta dengan cara semakin giat bekerja dan berinovasi.

Anies harus bersyukur sebab kehadiran Risma, secara tak langsung memaksanya untuk berbuat sesuatu. Atau dengan kata lain, Risma telah mengajari bagaimana bekerja.

No comments

Powered by Blogger.
------------------------------