Jika Tak Mau Divaksin, Jangan Provokasi Orang Untuk Menolak Vaksin

Berita Terkini - Beberapa hari ini kita gaduh soal vaksin. Ada yang ragu, ada yang mau, ada yang menolak, ada yang mempertanyakan ini itu, ada pula yang menyebar berita bohong tentang bahaya vaksin.

Bila kita melihat kembali ke belakang, seharusnya program vaksinasi tidak seharusnya buat gaduh.

Dulu ada yang minta di-lockdown. Jangankan lockdown, dikasih PSBB saja sudah banyak yang mengeluh, bahkan banyak yang tidak mau taat aturan.

Dulu ada yang minta pemerintah tegas terhadap pelanggar protokol kesehatan. Ketika ditindak tegas, ada yang menuduh negara represif dan otoriter.

Dulu pemerintah didesak mengusahakan vaksin. Vaksin dipesan, katanya tidak teruji, kaleng-kaleng dan tidak halal. Sudah diuji kelayakan dan kehalalannya, masih juga tidak percaya dan minta presiden divaksin duluan.

Pada titik ini sebenarnya sudah tidak ada masalah. Secara ilmiah/klinis sudah teruji vaksinnya melalui BPOM. Secara agama sudah teruji juga vaksinnya melalui sertifikat dan fatwa halal dari MUI.

Presiden mengiyakan divaksin duluan. Diminta lagi agar disiarkan secara langsung. Sudah disiarkan langsung, eh masih juga ada yang tidak yakin vaksin dapat menghalau covid-19. Ada yang bilang presiden tidak benar-benar divaksin. Kan bangsat!

Vaksin minta digratiskan. Sudah digratiskan, masih saja ada yang curiga ini konspirasilah, dagangan vaksinlah, vaksinnya katanya ditunda di negara lain.

Aduh…. Rakyat Indonesia ini memang paling susah disuruh taat, manut, ikut saja. Semua auto paling pintar. Bukan ahlinya, tapi bahas vaksin seolah dialah ahlinya. Bukan bidangnya, tapi merasa ia paham segalanya.

Maka saya kira sudah waktunya, kita mengubah sikap. Kalau Anda memang tidak mau divaksin, tidak perlu memprovokasi orang lain untuk menolak vaksin.

Provokasi itu ada banyak cara. Bisa dengan cara menakut-nakuti orang lain. Bisa menyebarkan berita bohong. Bisa juga dengan menyatakan lantang-lantang baik di media sosial maupun di forum diskusi bahwa Anda menolak divaksin.

Nanti tidak divaksin, Anda menuduh negara tidak adil, pemerintah zalim, presiden tidak peduli rakyat, dan lain-lain seperti kebiasaan makhluk berjulukan kadrun.

Sudahlah… Anda tidak mau divaksin, ya diam saja. Masih banyak orang lain ingin hidup lebih lama lagi dan berlomba divaksin. Apalagi vaksinnya gratis.

Kalau Anda sedikit saja membuka mata dan telinga, Anda seharusnya menghargai gerak cepat pemerintah mendapatkan vaksin ketika negara lain pun berlomba mendapatkan.

Anda seharusnya bersyukur, pemimpin Anda dengan segala konsekuensinya mau mendengarkan suara Anda. Meski sebenarnya dia tidak harus melakukan itu, tetapi demi meyakinkan rakyatnya para petinggi negara mau divaksin di depan matamu mengikuti permintaanmu. Bukan hanya di tingkat pusat, tapi sampai ke daerah-daerah. Masak itu tidak cukup meyakinkan kamu?

Jika bukan karena kebencian di hatimu, sikap para pemimpin itu harusnya sudah meyakinkan keraguanmu, mempasrahkan nasibmu, membulatkan tekadmu. Hargailah mereka yang sudah mau mendengar dan memberi contoh kepadamu. Memang tak sesempurna yang kita inginkan. Tapi adakah pemerintah yang sempurna di dunia ini?

Jika saja Anda punya hati, maka Anda akan bisa melihat bahwa pemerintah dengan segala kesusahannya bekerja keras agar situasimu bisa kembali normal sebagaimana biasanya. Yang berjualan, bisa berjualan tanpa was-was. Anak sekolah kembali bersekolah menuntut ilmu, bertemu teman-temannya, bercanda tawa kembali, dan mendapatkan dunianya kembali tanpa harus terkurung di rumah seharian. Tenaga kesehatan bisa lega tidak meregang nyawa setiap saat.

Sudah banyak nyawa yang hilang akibat covid-19. Mungkin masih banyak yang sedang dalam sekarat melawan covid-19 di rumah sakit. Rumah sakit sudah hampir penuh di beberapa daerah. Sudah berjuta pengangguran karena ekonomi melesu, produksi tidak jalan, penjualan merosot tajam, pabrik tutup, usaha bangkrut, anak-istri terancam tidak makan walau sudah mengetatkan ikat pinggang.

Jangan kita tambah lagi masalah hanya karena kebencian kita dan ego masing-masing.

Kita tidak sedang berlomba memenangkan piala. Kita sedang berjibaku menyelamatkan nyawa.

Kita tidak sedang bertaruh harta. Kita sedang bertaruh nyawa jutaan manusia tidak peduli apa agamanya, sukunya, status sosialnya, pekerjaannya, etnisnya dan daerahnya.

Musuh kita bukan sesama anak bangsa pun bukan sesama manusia. Musuh kita kali ini adalah korona. Mari kita lawan bersama.

No comments

Powered by Blogger.
------------------------------