ILC Berhenti Tayang. Entertainment Memang Sadis, Bro!

Berita Terkini - Katanya, ILC akan berhenti tayang. Dan penayangan hari ini adalah yang terakhir. Tapi tetap saja saya ogah menontonnya.

Bagi saya, program acara ILC sudah lama berubah haluan dari awalnya acara pemberi informasi dan pengetahuan tentang hukum, menjadi acara entertaintment politik liar semata.

Dulu masih bisa kita lihat bahwa yang dihadirkan, hampir semua yang berkompeten dalam bidangnya, memiliki data yang akurat, dan masih menggunakan daya nalar yang sehat dalam mengemukakan pendapat. Semua yang disampaikan menggunakan data yang valid.

Belakangan, apalagi setelah masalah efek Jokowi-Ahok muncul ke permukaan, ILC hanya menjadi ajang berdiskusi nara sumber siluman, yang kredibilitasnya belum terakui sebagai nara sumber, yang menyampaikan uneg-uneg, atau opini liarnya semata, hanya berdasarkan 'katanya-katanya' dan perasaan sendiri-sendiri saja. Sudah jarang sekali ada yang mengulas fakta dan data yang valid. Apalagi itu menyangkut hukum.

Kadang, saat ada yang menampilkan data dan fakta, pembawa acaranya malah cenderung membatasi waktu untuk nara sumber tersebut. Dia lebih senang memberikan kesempatan luas kepada nara sumber yang mau ngotot berbicara, sehingga menimbulkan ketegangan di program acara tersebut.

Karena itulah saya anggap ILC sudah berubah ke program hiburan semata. Tidak ubahnya seperti acara lawakan, tik-tokan, atau acara khusus keluarga-keluarga artis. Secara manfaat, sedikit sekali yang bisa kita petik, tapi secara hiburan, yah, lumayanlah, dari pada tidak ada perdebatan, kan, lebih baik ada perdebatan?

Jadi, kalau sekarang ILC harus mengumumkan akan berhenti tayang, saya kira, dan jangan juga nanti ada pihak tertentu yang menuduh-nuduh, bukan karena keadaan politik dalam negeri, atau ada ancaman kepada ILC. Tapi karena ILC sendiri sudah tidak mampu bersaing sebagai program entertaintment.

Program entertainment itu sebenarnya sadis. Tidak cukup hanya mendapatkan penonton yang banyak dan rating program yang tinggi. Itu pun kalau kita asumsikan ILC masih punya rating acara dan jumlah penonton yang cukup bagus.

Setelah dua hal tersebut, keberlangsungan acara itu masih bergantung kepada pendapatan, di mana pendapatan didapat dari berapa banyak sponsor dan iklan yang ikut mendanai acara, sekaligus menampilkan iklannya di sela-sela acara, dan di properti-properti acara.

Berhenti sampai disitu? Belum. Sponsor ini juga akan menilai, mengevaluasi, dengan cara-cara proporsional yang mereka punya, apakah dampak iklan mereka berpengaruh atau tidak bagi penonton acara tersebut. Meningkatkah atau tidak, penjualan produk yang mereka iklankan setelah iklan mereka tayang di acara tersebut?

Itulah pertanyaan inti yang menjadikan sebuah acara entertaintment dibilang sukses atau tidak.

Kalau saya perhatikan, ILC memang mampu menyedot perhatian banyak penonton, tapi pada dasarnya, terutama beberapa tahun belakangan ini, penontonnya menjadi homogen . Mayoritas penontonnya adalah pihak-pihak yang berseberangan dengan pemerintah, dan sejalan dengan kebanyakan nara sumber yang ada. Penonton yang cenderung mendukung pemerintah, sudah banyak yang ogah mengikuti acara ini. Mereka berkesimpulan menonton ILC hanya buang waktu percuma.

Inilah kesalahan pertama ILC. Mereka kira, karena tampil sebagai televisi yang secara implisit juga berada di barisan oposisi, akan menambah atau menjaga banyaknya penonton acara itu.

Benar, penonton terjaga dari segi jumlah. Tapi, itu tadi jenisnya homogen. Dimana salahnya penonton homogen?

Seharusnya tidak salah, hanya saja, jenis penonton yang satu ini unik. Mereka setia menonton, hanya karena senang suara mereka terwakili oleh nara sumber yang ada, tapi mereka tidak peduli dengan iklan yang ditawarkan.

Contoh, kalaupun ada iklan yang menawarkan air minum dalam kemasan, mereka tidak tergugah karena mereka sudah fix memboikot produk itu, dan memilih air minum "oke ocret" saja, sponsor utama hidup mereka.

Kalau pun ada yang berpindah dari produk itu, mereka lebih suka yang alami, misalnya: Oerin Oenta. Maka iklan yang ada tidak berdampak positif.

Contoh lain, iklan menawarkan agar membeli kulkas yang ditawarkan. Tapi mereka tidak bergeming, selama kulkas itu belum ada label halalnya. Akhirnya penjualan pun tersendat.

Saya menduga, sebagai acara entertaintment, ILC gagal memberikan keuntungan kepada sponsor-sponsornya. Maka selanjutnya, stasiun TV pun mulai kehilangan pendapatan dan kesulitan membiayai operasional acara, karena semakin hari iklan semakin sedikit, dan nilai kontraknya pun semakin murah. Padahal, nara sumber tetap harus dibayar.

Maka, akhirnya dengan berat hati ILC akan berhenti tayang. Sekali lagi, perlu diketahui, kemungkinan besar bukan karena kondisi politik, apalagi masalah keamanan pembawa acara. Hanya saja memang sudah tidak bernilai bisnis lagi. Itu saja.

No comments

Powered by Blogger.
------------------------------