FPI Mempermainkan Negara?

Berita Terkini - Sebagaimana diperkirakan, FPI tidak lantas diam dan pasrah saja menerima takdirnya. Begitu pemerintah menyatakan membubarkan ormas ini pada 30 Desember 2020 lalu, tidak lama berselang santer terdengar nama lain.

Hal itu sesuai dengan celotehan Rizieq Shihab beberapa waktu lalu ketika narasi publik semakin kencang supaya ormas radikal ini dibubarkan. "Bikin lagi dengan nama baru!" ujarnya dengan enteng.

Maka ketika kini FPI (Front Pembela Islam) dilarang, mereka langsung bersalin rupa menjadi Front Persatuan Islam, alias FPI juga. Cerdiknya, di kalangan masyarakat luas, yang dikenal dan diingat adalah FPI, bukan soal apa kepanjangannya. Soal ada ijin atau tidak, sabodo teuing.

Maka ketika FPI -- katanya -- sudah dibubarkan pemerintah, namun pada kenyataannya ormas ini tetap utuh saja. Dalam arti, orang-orangnya masih tetap sama. Tokoh-tokoh pengurusnya masih itu-itu juga.

Junjungan tertinggi dan imam besar mereka masih Rizieq Shihab. Laskar masih ada. Hanya saja, memang ada beberapa anggota yang menyatakan mengundurkan diri dari FPI setelah Rizieq Shihab mendekam di penjara.

Tapi di kalangan masyarakat, euforia begitu membahana, sampai-sampai banyak orang yang mengekspresikan kebahagiaan itu lewat karangan bunga.

Di sinilah tampak kesan bahwa perangkat hukum dan pemerintah hanya bertindak hanya setengah-setengah. Tidak ada efek jera, sebab para pengurus ormas ini tampak santai-santai saja. Walaupun markaz mereka di Petamburan disegel atau baliho spanduk plang bertuliskan FPI dicopot dan diturunkan, itu tidak ada pengaruh sama sekali.

Bahkan ketika dalam video aparat TNI tampak mencopoti spanduk-spanduk atau logo FPI di markas mereka, si Haikal Hassan dkk., mungkin malah tertawa terbahak-bahak di belakang tembok, sambil berterima kasih kepada aparat yang telah meringankan tugas mereka.

Sebab toh, spanduk dan logo itu sudah tidak diperlukan lagi. Beberapa hari lagi akan diganti dengan yang baru, sesuai nama baru. Kalau sudah selesai disablon atau diprint, hanya tinggal ditempel di kaca yang sudah dibersihkan aparat beberapa waktu sebelumnya.

Kita tentu saja senang dan menyambut gembira ketika FPI dimaklumkan sebagai ormas terlarang, dan tidak diperbolehkan lagi melakukan aktivitasnya. Namun hati rasanya menjadi miris tatkala dengan entengnya mereka menyatakan telah berganti nama, namun tetap saja disingkat FPI.

Pemerintah sepertinya hanya dijadikan bahan lelucon. Padahal wakil-wakil pemerintah yang mengawal maklumat pembubaran itu pun tidak tanggung-tanggung. Di belakang Mahfud MD yang menkopolhukam, berjejer antara lain: Panglima TNI, Kapolri, Kepala BIN, Menkumham, Wamenkumham, Jaksa Agung, dan lain-lain.

Namun apalah artinya itu semua kalau ternyata keputusan mereka hanya dianggap bagaikan angin lalu oleh Rizieq Shihab dan kawan-kawannya? Bahkan dengan atau tanpa izin dari pemerintah pun, katanya, mereka akan tetap eksis.

Inilah bentuk kesombongan dan keangkuhan yang luar biasa, yang menganggap negara dan pemerintah ini dengan sebelah mata. Hukum dan ketetapan pemerintah tidak dihargai sama sekali. Sudah dibubarkan tapi masih sok menantang dengan cara langsung mengganti nama, namun misi dan tujuan tetap sama.

Pembangkangan semacam ini sama sekali tidak dapat dibiarkan. Dan kita seharusnya paham bahwa kaum intoleran yang sudah diracuni hasutan dan doktrin para penceramah agama radikal, pada umumnya membenci Presiden Jokowi, dan sekaligus anti-pemerintah. Kaum ini biasanya bergabung di ormas-ormas semacam FPI yang dirasa senapas dan seaspirasi.

Begitu dalamnya mereka ini tersesat, dapat terlihat dari status-status mereka di medsos yang seolah-olah tidak menganggap bahwa Jokowi itu pemimpin mereka. Kaum kadal gurun ini sebaliknya sangat menghormati, mengagumi dan membanggakan Recep Tayyip Erdogan, yang hanyalah seorang presiden Turki.

Miris rasanya membaca komentar-komentar mereka ketika menampilkan berita dan foto tentang Erdogan. Puja-puji bahwa Erdogan itu adalah pemimpin yang bijaksana, amanah, pembela Islam, pejuang Islam, peduli rakyatnya, dan lain sebagainya.

Sementara presiden mereka sendiri, Jokowi, begitu dibenci, sampai-sampai tidak ada satu pun yang benar dari Jokowi. Kini kebencian mereka terhadap Jokowi sudah mencapai ubun-ubun karena Rizieq Shihab mendekam di penjara, lalu FPI dibubarkan.

Padahal si Erdogan yang mereka puja-puji sebagai pemimpin dunia Islam yang ideal itu, belum lama ini diberitakan justru ingin membangun hubungan yang lebih baik dengan Israel. Sebaliknya dengan Jokowi yang keukeuh dengan sikap politiknya yang ogah berbaikan dengan Israel sebelum masalah Palestina klir.

Maka pemerintah dan aparat jangan merasa sudah selesai melakukan tugasnya soal FPI ini. Sebab secara de facto mereka tetap eksis, dan bisa saja digerakkan sewaktu-waktu. Sikap membangkang yang mereka perlihatkan itu sudah merupakan indikasi kuat bahwa mereka ini tidak sepenuhnya mau patuh pada aturan.

Maka sebaiknya, pasca deklarasi pembubaran ini, sebaiknya pemerintah langsung melakukan upaya deradikalisasi, berupaya merangkul anggota yang masih bisa disadarkan.

Namun pemerintah pun jangan hanya berhenti hanya dengan pembubaran FPI secara resmi, namun juga berusaha memotong akarnya. Mantan Kepala BIN Hendropriyono, dalam acara ngobrol-ngobrol dengan Karni Ilyas beberapa waktu lalu, mengatakan bahwa akar dari radikalis ini adalah ceramah-ceramah agama yang nadanya menghasut dan memprovokasi itu.

Maka sebaiknya sejak sekarang negara menertibkan oknum penceramah agama yang selama ini bebas-bebas saja menyebarkan kebencian dan permusuhan. Aparat jangan langsung merasa keder kalau dituduh sebagai anti-agama, musuh ulama, dsb. Sebab nyatanya di berbagai negara lain, penceramah agama pun tidak boleh sesuka hati.

Pemerintah yang menoleransi penceramah radikal, sama saja membiarkan negerinya digerogoti, yang kelak bisa membara seperti Suriah. Anjuran dan hasutan oknum penceramah agama inilah yang antara lain membuat umat yang lugu dan polos itu berani menantang pemerintah.

No comments

Powered by Blogger.
------------------------------