Sudah Saatnya Kita Berhenti Memakai 'Lonte' Sebagai Makian

Berita Terkini - Pekerja seks adalah profesi tertua di dunia, yang seringkali muncul akibat kesenjangan ekonomi. Absurd rasanya melihat semua kubu dalam kasus Nikita vs Rizieq sama-sama mendiskreditkan lonte.

Kasus balas-membalas umpatan lonte yang ramai beberapa hari terakhir sudah salah banget sejak awal. Sebagai perempuan kelas pekerja, lewat tulisan ini aku ingin mengimbau pembaca semua agar tidak langsung ikut-ikutan memihak salah satu kubu, dan lebih baik fokus berhenti melanggengkan lonte sebagai diksi makian.

Ramainya diksi lonte terbaru dimulai dari artis Nikita Mirzani yang 10 November kemarin live IG mengomentari kepulangan Muhammad Rizieq Shihab ke Indonesia setelah tiga tahun menyedi di Arab Saudi. “Gara-gara Habib Rizieq pulang sekarang ke Jakarta,” katanya, “penjemputannya gila-gilaan. Nama habib itu adalah tukang obat. Screenshot!" 

Dua hari habis itu, ternyata ada orang yang marah sama omongan Nikita. Orangnya bernama Ustaz Maaher at-Thuwailibi, seorang mubalig di Medan. Ustaz yang namanya berarti ‘murid cerdas’ itu mengunggah video balasan untuk Nikita di Instagram pribadinya pada 12 November. (Videonya udah ga ada di IG ybs., katanya karena di-suspend.) Dari media lain aku nemu kalau di video itu Ustaz Maheer bikin pesan ke Nikita kayak gini. 

"Saya Ustaz Maaher At-Thuwailibi, mengimbau pada saudari Nikita Mirzani yang telah menghina, menyudutkan, dan merendahkan Imam Besar kami, Al-Habib Muhammad Rizieq bin Husein Shihab dengan sebutan tukang obat.”

Dia juga bilang, "Kepadamu, hei, babi betina, lonte oplosan, penjual selangkangan, saya himbau, 1 x 24 jam kau tak melakukan klarifikasi dan permintaan maaf di depan publik secara terbuka, saya Maaher At-Thuwailibi bersama 800 laskar pembela ulama, bakal mengepung rumahmu.”

Aku jadi penasaran, kenapa habib tukang obat bisa dianggap hinaan ya? Searching bentar, aku nemuin penjelasan dari komentar live IG Nikita tadi. Njir, ternyata “habib tukang obat” tadi itu pelesetan, Boy. Maksudnya tabib, gitu.

Ga nyangkalah asli, pelesetan cringe modelan gini sukses menembus keluar dari sirkel ‘bapack-bapack’. Sayang sekali, walau satu misteri terkuak (tapi aku masih belum paham sih letak hinaannya di mana), aku masih gagal memvisualisasi sebutan “lonte oplosan”. Sumpah, pikiranku ga nyampe.

Oke lanjut. Orang yang diomongin sekarang ikut nimbrung. Rizieq Shihab dalam ceramahnya pas peringatan maulid Nabi Muhammad saw. di markas FPI 14 November kemarin kayaknya ngebales omongan Nikita. Video lengkapnya ada di YouTube Front TV (ciyeee, masih pakai YouTube), tapi aku cuma menranskrip potongan menit 04.21.39 sampai 04.23.40 yang viral

“Ada lonte hina habib, pusing, pusing. Sampe lonte ikut-ikutan ngomong, yeee. Sudara, lanjut jangan? [Jemaah: Lanjut!] Lanjut jangan? [Lanjut!] Ya lu jangan berisik dong. Saya enggak marah, cuma ada umat yang marah, nyancam mengepung lonte. E, polisi kalang kabut jagain lonte. Yaaa. Kacau, kacau,” kata Habib Rizieq.

“Lonte hina habib, dijaga polisi [Habib Rizieq tertawa]. Kacau tidak? [Kacau!) Mustinya lonte yang hina habib, hina ulama, tangkap. Bukan dijagain. Polisi jawab, ‘Tapi ada ancaman, Habib.’ Makanya ditangkap. Betul? [Betul!] Ditangkap enggak, dijagain. Yeee. Jangan-jangan [polisi] minta jatah kali. Kacau, kacau.

Ending sementara: Senin (16/11) lalu Nikita dilaporkan Forum Masyarakat Pecinta Ulama (FMPU) ke Polda Metro Jaya atas tuduhan pencemaran nama baik Habib Rizieq, tapi ditolak polisi. Sedangkan Nikita tadinya ingin balas melapor di hari yang sama, dengan alasan tidak terima dikatai lonte, namun menurut update terbaru laporan itu batal soalnya doi mendadak ga mood.

Urusan tiga orang di atas lalu jadi urusan banyak orang. Ada yang ngebelain Habib, ada yang membela Ustaz Maaher, tapi pendukung Nikita juga ga kalah banyak. Tapi perhatikan ketiga kubu, semuanya merendahkan kata lonte kan? Nikita yang dianggap “open minded” aja tidak terima dicap pake kata itu.

Padahal udah lama profesi ini dianggap sebagai efek struktur masyarakat yang patriarkis. Di ranah budaya pop, Iwan Fals membikin lagu simpatik “Lonteku” pada 1993. Lebih tua lagi, tahun 1977 Titiek Puspa malah udah menyuarakan isi batin pekerja seks dengan sebutan klasik ‘kupu-kupu malam’. Jadi bayangkan, udah 2020 orang masih ngehina-hina lonte. Pantes feminis Indonesia dianggap galak, makin tahun kesadaran publik malah mundur gini.

Profesi seks transaksional sudah ada sejak masa Yunani Kuno dan ini pembahasannya multidimensi. Per 2016, ada 56 ribu orang di Indonesia menjadi pekerja seks, dan itu hanya di lokalisasi. Dari beragam motif yang mendorong, terutama, perempuan masuk pelacuran, alasan mayoritas karena desakan ekonomi, termasuk pandemi tahun ini juga berperan. Pernikahan dini, lalu menjadi janda di usia muda termasuk faktor yang banyak menjerumuskan perempuan pada prostitusi. Tapi kita juga mestinya belum lupa, perempuan di video seks Garut tahun lalu adalah korban KDRT yang dijual suaminya sendiri. Itu belum termasuk pekerja seks yang tadinya adalah korban pemerkosaan.

Aku jadi teringat wawancara Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini di Mata Najwa pada 2014, ketika Risma hendak menutup lokalisasi terbesar Asia, Dolly. Risma menceritakan pertemuannya dengan seorang pekerja seks berusia 60 tahun yang sudah menjajakan diri sejak usia 19 tahun. Kendati sudah lansia, ia masih harus melayani bahkan anak SD demi bayaran seribu-dua ribu rupiah.

Aku sangat bisa merasionalisasi kenapa ekonomi dapat mendorong orang membuang harga diri. Di generasi ibu dan nenekku, cerita mengenai perempuan yang tak diberi kesempatan sekolah, apalagi sampai tinggi, masih akrab. Dengan keterampilan terbatas, ketika perempuan disia-siakan suami, tak ada banyak pilihan profesi yang bisa mereka ambil. Masih untung kalau anak orang kaya. Jika ekonomi udah payah, jualan makanan yang paling sering jadi andalan. Opsi lainnya adalah jadi buruh kasar di sektor domestik. Dan bila modal dan keterampilan memasak atau menjahit pun tak punya, siapa kita sehingga berhak menghakimi perempuan yang menjual diri? Perut yang lapar, kata seorang penulis, lebih berbahaya daripada kebangkitan Komunisme.

Maksudku, emang ada orang memilih profesi yang salah karena kemaruk. Direktur PT Trada Minera, Heru Hidayat, yang mengorupsi uang nasabah Jiwasraya buat judi kasino itu udah pasti jahat. Tapi ada juga orang yang kita sendiri sampe ga paham, gimana sih rasanya jadi dia, rela ga punya martabat, cuma buat makan. Karenanya sebutan macam ‘pelacur’, ‘lonte’, dan semacamnya tak layak menjadi materi makian.

Aku enggak ngarep bakal ada sikap politically correct dari peserta lomba umpat lonte seperti dalam kisruh Rizieq vs Nikita. Rekam jejak semua kubu yang berseteru ga memberi ruang untuk berharap semacam itu. Tapi, kepada pembaca yang kuyakini masih punya empati, harapan itu tetap ada. Kalau kamu menganggap profesi pekerja seks itu salah secara moral, fokus saja bantu mereka untuk berdaya secara ekonomi. Sebab kondisi di Tanah Air selama ini aneh banget. Jadi pelacur dianggap salah, mau pensiun juga ga diterima. Complicated.

Sebagai perempuan dari kelas pekerja, aku tak mau memihak pada mubalig maupun artis yang menghina profesi kelas bawah marjinal. Aku akan memilih bersolidaritas dengan lonte, buruh, petani, pengangguran, sampai kuntilanak. Apalagi di situasi pandemi begini, ketika problem kesehatan dan ekonomi mengimpit sebagian besar masyarakat.

Jika akhirnya kamu merasa tak bisa membantu para pekerja seks jadi lebih berdaya, selemah-lemahnya iman ya jangan ikut ngatain lah. Masih banyak profesi yang jahatnya murni seperti mata air pegunungan, yang lebih patut dicerca. 


No comments

Powered by Blogger.
------------------------------