Setelah Tebar Ancaman, Kita Ragu Pemprov DKI Wujudkan Tindakan Hukum

Berita Terkini - Kalau diibaratkan sesuai situasi faktual, Rizieq Shihab bagi Anies Baswedan mungkin tepat jika disebut macan yang sedang dicoba dijinakkan. Namun namanya juga hewan buas, sekalipun telah dikandangkan tetap saja nafsunya sebagai pemangsa bisa muncul kapan saja. Hal ini tampak ketika Imam besar khusus FPI ini memaksakan diri melakukan aktifitas yang berpotensi melawan aturan protokol kesehatan, ketika hendak menikahkan anaknya.

Dapat dibayangkan betapa Pemprov DKI serba salah karena jika kegiatan itu dihalang-halangi, dipastikan akan memancing reaksi keras dari sang Imam. Namun sebaliknya jika diijinkan, lebih repot lagi karena akan menimbulkan resiko yang tidak kecil. Tidak ada kerumunan sesuai himbauan pemerintah saja, DKI sudah menduduki ranking atas dalam jumlah penyebaran Covid 19, apa lagi kalau ditambah perilaku sebagaimana diperlihatkan pendukung Rizieq.

Jika aparat Pemprov telah melayangkan surat peringatan hingga dua kali, kita yakini disebabkan oleh respon yang tidak memadai dari pihak Rizieq, maka seharusnya surat itu tak usah sampai dikirim berulang, karena sebagai pimpinan Ormas yang terhormat, tak pada tempatnya Rizieq berkeras hingga melanggar ketetapan pemerintah.

Publik pun akan dibuat pesimis apakah Pemprov berani menjalankan tindakan sesuai ancamannya, manakala acara itu tetap berlangsung. Aparat di level bawah niscaya akan serba salah karena Gubernurnya sendiri mengisyaratkan tak berani melawan rencana perhelatan, alasannya tentu sangat logis, bahwa dia harus menjaga hubungan baiknya dengan Habieb, jika tidak ingin kehilangan dukungan.

Kunci penyelesaiannya tetap berada di tangan Rizieq, sejauh mana dia menghormati wibawa Pemprov termasuk Gubernurnya. Kalau dia ngotot melanjutkan kegiatannya, berarti dia memposisikan diri merasa lebih berkuasa ketimbang pejabat Pemprov. Atau jika digambarkan lebih vulgar, Rizieq memang sedang menguji nyali jajaran Pemprov.

Setelah acara itu benar-benar berlangsung, dan ternyata Rizieq tak sedikit pun ingin menaati protokol kesehatan, jajaran Pemprov seharusnya melakukan langkah seperlunya, misalnya membatasi jumlah peserta yang datang. Tapi apa mungkin hal itu dilakukan? Karena jika terjadi pembatasan, sama artinya dengan mengurangi sensasi yang ingin mereka nikmati dalam perhelatan tersebut. Singkatnya ada pertarungan kepentingan antara Pemprov di satu pihak dengan Rizieq di pihak lainnya.

Surat ancaman itu sendiri tampaknya semata-mata untuk menunjukkan kepada publik bahwa Pemprov tetap menjaga marwah sebagai penguasa wilayah, sementara urusan ditaati atau tidaknya oleh si penerima ancaman, menjadi persoalan berbeda.

Perhelatan itu sendiri, jika dilihat rekaman gambarnya menunjukkan mereka tak sedikit pun memperhatikan protokol yang dipersyaratkan. Artinya panitia dan keluarga Rizieq memang tak memiliki rasa respek kepada pemerintah setempat, meskipun telah menerima dua surat ancaman. Sebagaimana diduga sebelumnya, sangat sulit para hadirin dicegah memadati tempat acara, karena pasti mereka sangat antusias menghadiri acara langka ini.

Menarik untuk kita saksikan, bagaimana reaksi Pemprov menyikapi situasi di tempat acara, karena bukti-buktinya sangat jelas, mereka sama sekali tidak mengikuti prosedur yang berlaku, artinya Pemprov dituntut menjalankan tindakan yang telah diancamkan kepada panitia dan tuan rumah.

Dan seandainya ancaman itu benar-benar dijalankan, menarik pula kita saksikan bagaimana kedua belah pihak akan terlibat adu kekuatan. Mudah dibayangkan, bahwa pihak panitia hajatan akan melakukan perlawanan sekiranya pihak Pemprov dan aparat keamanan melakukan tindakan sesuai peraturan.

Jika Pemprov memang ingin menjaga marwah mereka, sanksi yang mengancam penyelenggara seharusnya benar-benar ditegakkan, karena akan sangat sulit mendapatkan kepercayaan publik, jika pendekatan yang diperlukan tidak mereka laksanakan. Namun tentu saja tidak mudah bagi Pemprov untuk melakukannya, karena sebagaimana tabiat para pendukung Rizieq, mereka biasa melakukan perlawanan sengit, sebelum tindakan represif pihak keamanan berhasil menguasai keadaan.

Satu hal yang kita khawatirkan adalah ancaman bermunculannya klaster-klaster baru covid 19, sejak kemunculan Rizieq Shihab di tanah air. Bayangkan saja, di tengah kekhawatiran kita kembali merebaknya penularan, para pendukung Rizieq justru cenderung mengabaikan protokol yang berlaku. Jika saja kali ini pihak yang berwenang tak mampu mengendalikan massa, termasuk memberi sanksi kepada panitia yang gagal mengendalikan kerumunan, maka jangan salahkan masyarakat jika mereka pada akhirnya melakukan pengabaian yang sama.

No comments

Powered by Blogger.
------------------------------