PA 212 Minta Maaf Soal Kemacetan, Kenapa Gak Ganti Kerusakan di Bandara?

Berita Terkini - Gara-gara menjemput Rizieq seorang, banyak orang ikut terkena dampak buruknya. Tol lumpuh karena macet, kendaraan tidak bisa bergerak sedikit pun selama beberapa saat. Penerbangan harus delay selama 4 jam yang membuat penumpang telantar. Belum lagi orang-orang seolah tak beradab yang merusak kursi tunggu, kaca pembatas dan tanaman luar gedung bandara pun diinjak-injak (kalau gubernurnya Bu Risma, mungkin sudah kena marah habis-habisan).

Ketua Umum PA 212 Slamet Maarif menyampaikan permohonan maaf karena proses penjemputan Rizieq di Bandara Soekarno-Hatta menimbulkan kemacetan. Slamet mengatakan pihaknya tidak menyangka massa yang menyambut Rizieq bisa membeludak pada Selasa pagi. Oleh karena itu, dia meminta maaf jika banyak orang terganggu akibat penjemputan tersebut.

"Kami mohon maaf lahir batin kepada pihak-pihak yang merasa terganggu atas penjemputan oleh umat kepada Habib Rizieq, mungkin terlambat ke bandaranya," kata Slamet.

Penumpukan massa di area bandara di luar dugaan pihaknya. Menurutnya, kehadiran mereka didasari panggilan hati umat yang sangat merindukan sosok Rizieq. "Sekali lagi mohon maaf lahir batin, ini di luar dugaan, karena memang ini panggilan hati umat yang sangat rindu, sangat kangen dengan imam besar kita," katanya.

Keramaian ini, menurut logika awam saya, hanya mobilisasi yang disertai dengan titik-titik. Kalau tanpa titik-titik ini, tak banyak yang mau repot-repot. Dan ini juga membuktikan kalau banyak pendukungnya yang mungkin tak ada kerjaan. Kalau punya kerjaan atau usaha, tapi mungkin begitu santai bisa jemput Rizieq, betul? Memang beginilah kualitas mereka. Tak ada kerjaan, dan bikin orang jadi lebih banyak kerjaan karena direpotkan secara paksa, hehehe.

Slamet minta maaf, saja percuma. Anak kecil pun bisa kok. Cuma modal tebal kulit muka, lalu bilang maaf.

Harusnya mereka mengganti semua kerugian yang terjadi. Kursi tunggu di bandara rusak, kakinya patah. Kaca pembatas retak. Tanaman diinjak-injak. Hitung berapa juta kerugiannya.

Yang paling utama adalah penerbangan delay, yang pastinya membuat seluruh maskapai di sana rugi. Delay 4 jam itu bukan main-main. Tanpa delay itu, normalnya, di bandara bisa terjadi puluhan hingga ratusan penerbangan masuk dan keluar bandara. Berapa miliar kerugiannya?

Belum lagi penumpang yang telantar, atau yang punya masalah mendesak dan hendak buru-buru, ternyata tak bisa terbang. Atau yang punya deal bisnis atau ingin bertemu orang penting, tapi terlambat. Berapa kerugian yang mereka alami?

Dan yang sama parahnya, pengguna jalan direpotkan oleh kemacetan. Berapa pendapatan tol yang hilang gara-gara kemacetan tersebut?

Dan semua itu cuma direspon dengan permintaan maaf? Dasar gerombolan stres tak berguna yang kerjanya tukang nyusahin orang tapi sering merasa tak bersalah. Permintaan maaf tak akan cukup kalau tidak dibarengi dengan tanggung jawab mengganti semua kerugian yang terjadi.

Belilah cermin dan biarkan mereka ngaca. Berapa kali mereka telah membuat keresahan dan kekacauan? Merasa pemilik kunci surga, seenak jidat menabrak aturan demi keegoisan sendiri. Bagaimana kita bisa menghargai mereka, kalau mereka saja tidak pernah bisa menghargai orang lain. Yang ada kita sebel, kesel dan muak melihat kelakuan mereka. Merasa paling benar meski jelas-jelas salah. Pura-pura bodoh meski telah membuat kekacauan besar.

Mereka selalu mikir belakangan, minta maaf belakangan setelah membuat kekacauan. Sebenarnya, kalau mau dibilang, mereka memang tidak pernah mikir. Mereka tidak peduli dengan keresahan orang lain, karena apa pun yang mereka mau harus terjadi. Yang menghalangi, akan diminta minggir dan mengalah.

Kalau memang mereka bisa mikir, ngapain umumkan kepulangan Rizieq? Pulang diam-diam baru umumkan. Atau imbau pendukung tidak datang menjemput. Tapi mereka tidak lakukan itu. Mereka memang maunya bikin macet, biar terlihat keren karena ramai.

Apakah mereka tidak bisa melakukan hal lain yang bermanfaat bagi orang banyak? Kalau tidak mau tanggung jawab dan maunya cuci tangan, jumlah kalian lumayan banyak, mereka bisa menyapu jalan dan membersihkan got setiap hari membantu gubernur tak becus yang mereka dukung agar Jakarta tidak banjir.

Apakah mereka mau? Orang kayak mereka, munafik. Kemunafikan akan selalu terlihat topeng palsu yang penuh dengan kebohongan.

Bagaimana menurut Anda?

Sumber: https://seword.com/politik/pa-212-minta-maaf-soal-kemacetan-kenapa-gak-ganti-wUtcFaTs2P

No comments

Powered by Blogger.
------------------------------