Penyebar Hoax UU Cipta Kerja Ditangkap Polisi, Motifnya Bikin Geleng-Geleng Kepala

Berita Terkini - Masih ingat dengan 12 poin mengenai Omnibus Law atau UU Cipta Kerja yang beredar, sehingga membuat resah masyarakat? Kalau agak lupa-lupa ingat, mari kita simak sejenak 12 poin berikut ini.

Poin 1 menyatakan bahwa uang pesangon dihilangkan, 2. UMP, UMK, UMSP dihapus, 3. Upah buruh dihitung per jam, 4. Semua hak cuti hilang dan tidak ada kompensasi, 5. Outsourcing diganti dengan kontrak seumur hidup, 6. Tidak ada status karyawan tetap, 7. Perusahaan bisa mem-PHK kapan pun secara sepihak, 8. Jaminan sosial dan kesejahteraan lainnya hilang, 9. Semua karyawan berstatus karyawan harian, 10. Tenaga kasar asing bebas masuk, 11. Buruh dilarang protes, ancamannya PHK dan 12. Libur hari raya hanya pada tanggal merah, tidak ada penambahan cuti.

Jika kalian adalah seorang karyawan swasta atau pun seorang buruh ketika membaca kedua belas poin di atas apa perasaan kalian? Jengkel, tidak terima atau merasa tidak ada keadilan dalam UU Cipta Kerja tersebut. Ya, bukan hanya kalian yang merasakan hal di atas, hampir seluruh masyarakat yang membaca kedua belas poin pun merasakan hal yang sama.

Siapa juga yang akan rela jika hal-hal tersebut benar-benar diberlakukan. Di mana rasa kemanusiaannya? Apakah kita hanya diperas tenaganya saja tanpa dapat menuntut hak kita sebagai karyawan? Jika hal tersebut benar-benar terjadi maka ini adalah negara otoriter yang mengesampingkan hak-hak rakyat yang ingin mendapatkan pekerjaan yang layak serta hak-haknya sebagai pekerja seperti yang telah berlaku di seluruh dunia.

Dan kedua belas poin tersebutlah yang kemungkinan menjadi penyulut aksi massa yang menolak pengesahan Omnibus Law atau UU Cipta Kerja yang baru disahkan oleh DPR RI itu. Karena masyarakat tentu tidak akan terima begitu saja UU Cipta Kerja yang mengebiri hak-hak mereka sebagai seorang pekerja. Jangankan kalian, saya sendiri juga tidak mau.

Tapi kenyataannya 12 poin yang beredar tersebut ternyata adalah hoax yang disebarkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab dan hanya ingin membuat kegaduhan saja.

Adalah seorang perempuan berinisial VE (36) berasal dari Makasar menyebarkan hoax mengenai Omnibus Law atau UU Cipta Kerja melalui akun Twitternya, dan kemudian hoaks tersebut menyebar luas melalui sosial media. Dan membuat resah masyarakat.

Tetapi syukurlah pihak kepolisian bergerak cepat, biang penyebar hoax 12 poin UU Cipta Kerja itu berhasil ditangkap meskipun unjuk rasa penolakan UU Cipta Kerja telah berlangsung dan membuat beberapa daerah ricuh serta perusakan fasilitas umum.

"Dengan adanya hoax yang beredar kemudian dari tim dari Cyber Crime Mabes Polri yang dipimpin oleh Brigjen Slamet Uliandi dan tim ya akhirnya melakukan pelacakan, melakukan penyelidikan akhirnya menemukan, oh ternyata hoax ini ada yang ng-upload, jadi setelah kita cek adalah berada di Sulawesi Selatan, di daerah Makassar, lokasinya," ujar Argo dalam konferensi pers di kantornya, Jumat (9/10/2020).

Menurut dia, VE diduga melakukan penyebaran yang tidak benar, itu ada di Twitter-nya @videlyae.

"Seorang perempuan ini berinisial VE, itu umurnya 36 tahun warga di Kota Makassar, jadi setelah kita lakukan penangkapan di sana kita bawa ke Jakarta, kemudian kita lakukan pemeriksaan. Jadi dari hasil pemeriksaan, memang benar yang bersangkutan melakukan postingan, menyiarkan berita bohong di akun Twitternya yang menyebabkan ada keonaran di sana itu," papar Argo.

Lalu apa motif VE menyebarkan kebohongan mengenai UU Cipta Kerja tersebut? Apakah VE kecewa dengan perusahaan tempatnya bekerja? Apakah ada diskriminasi terhadap VE sehingga dia tega menyebarkan hoax mengenai UU Cipta Kerja?

Ternyata bukan itu motif dari VE menyebarkan hoax mengenai UU Cipta Kerja yang akhirnya membuat resah masyarakat itu. Dan ternyata VE melakukan semua itu karena dirinya kecewa sebab sampai saat ini dirinya tidak bekerja. Walah....!!

"Motifnya, yang bersangkutan merasa kecewa karena dia tidak bekerja, karena (itu) dia membuat hoax tersebut," kata Argo.

Sejumlah bukti sudah diamankan dari tersangka, seperti SIM Card, capture postingan di akun @videlyae.

"Yang bersangkutan menyebarkan berita bohong di akun Twitternya yang menyebabkan ada keonaran. Kemudian barang bukti yang diamankan ada SIM card, handphone, beberapa capture dari handphone-nya," kata Argo.

Dan tersangka diancam pidana maksimal 10 tahun. Jangan kasih kendor pak polisi. Yang begini harus benar-benar dikurung biar jadi contoh untuk mereka yang sering menyebarkan hoax. Jangan dilepas hanya karena ada permintaan maaf yang bersangkutan.

Sumber : https://seword.com/umum/penyebar-hoax-uu-cipta-kerja-ditangkap-polisi-V3VulDyrgo

No comments

Powered by Blogger.
------------------------------