Mimpi FPI Jokowi Pecat Dubes Luar Biasa RI untuk Arab Saudi : "Mimpi Saja Terus!"

Berita Terkini -  Orang bilang Habib Rizieq Shihab itu orangnya cerdas dan serba tahu. Sekilas benar, dari seluruh kritikan hingga hujatan yang dia lontarkan seolah-olah apa yang dia katanya full of the truth. Apalagi dengan gaya bicara yang begitu meyakinkan. Maklulah lah, ya namanya juga ulama, sudah terbiasa dengan pekerjaan sebagai penyampai kebenaran yang terkandung di setiap ayat Al Quran. Ayat-ayatnya benar, kalau soal contoh kejadian atas mengimplementasian ayat di jaman sekarang, 1400 tahun setelah utusan Allah SWT wafat, sepenuhnya tergantung pada kedalaman nalar setiap ulama. Itu sebabnya, banyak macam-macam pendapat terhadap satu ayat. Mana yang lebih benar, hanya nalar kita yang bisa menentukan.

Namun, di sisi lain, saya biasanya menilai sikap seseorang dari dua sudut pandang. Apakah orang itu benar-benar tahu atau benar-benar tidak tahu dari apa yang dia bicarakan. Sering kita mendengar komentar "HRS ini seperti punya mata-mata atau orang dalam. Dia selalu tahu sepak terjang pemerintahan". Tapi kalimat itu mulai terdengar hanya sejak Jokowi jadi Presiden Indonesia. Sebelumnya, HRS nyaman-nyaman saja dengan cara SBY memerintah negara, tapi faktanya banyak program SBY yang gagal dan HRS diam saja. Kita jadi bertanya, HRS kemana saja selama SBY 10 tahun menjadi Presiden Indonesia? Mengapa sikap HRS begitu jomplang dan tak memperlihatkan sebuah sikap seimbang terhadap NKRI? Well, silahkan jawab sendiri yah... Karena apa yang mau saya soroti di tulisan saya kali ini adalah soal kemungkinan yang mana yang lebih pas dengan fakta lapangan, apakah HRS itu seorang yang benar-benar tahu atau justru sebaliknya, seorang yang benar-benar tidak tahu.

Contoh yang paling segar. Soal permintaan FPI pada Presiden Jokowi untuk memecat Duta Besar Luar Biasa RI untuk Negara Arab Saudia, Bapak Agus Miftah Abegebriel, yang sudah menjadi sebagai Duta Besar RI untuk Arab Saudi sekaligus sebagai wakil Indonesia di Organisasi Kerjasama Islam atau OKI, selama lebih dari 5 tahun. Permintaan ini, katanya, berhubungan dengan situasi dan kondisi HRS yang ga bisa pulang-pulang ke Tanah Air. Tuduhannya cukup berat, yaitu Pak Duta Besar dituduh telah menghalang-halang kepulangan HRS ke Indonesia. Tak hanya sampai mendesak Presiden untuk memecat dirinya, bahkan Dubes RI untuk Arab Saudi ini berulang kali menerima ancaman pembunuhan. Ini yang aneh. Kenapa masalah kepulangan HRS disangkut pautkan dengan kedutaan? Apakah seperti sikap orang yang katanya benar-benar tahu? Atau memang HRS dan FPI benar-benar tidak tahu soal tugas KBRI?

Saya berpengalaman tinggal di beberapa negara dan berhubungan baik dengan KBRI, tahu persis apa sebenarnya peran KBRI untuk WNI yang ditinggal di satu negara. Jika masalah HRS tak bisa pulang karena over stay, urusannya bukan dengan KBRI tetapi dengan Imigrasi Arab Saudi. Dan kalau paspornya masih berlaku, ya tinggal pulang saja tanpa harus mampir ke KBRI. Jika masalahnya adalah passport yang sudah kadaluarsa, HRS bisa meminta KBRI memberikan surat jalan atau paspor sementara untuk pulang, atau bahkan mengganti paspor lama dengan paspor baru yang valid untuk 5 tahun. JIka HRS punya masalah dengan hukum setempat, seperti yang dialami banyak TKI di Arab Saudi, maka HRS bisa MEMINTA perlindung hukum dari KBRI untuk menyelesaikan masalah dia dengan hukum Arab Saudi. Menuduh Pak Dubes RI menghalang-halangi kepulangan HRS ke Indonesia, dasarnya apa? Selama ini FPI sendiri yang meributkan kalau HRS itu dalam kondisi DICEKAL.


Catatan :

==> DICEKAL atau Cekal itu adalah pelarangan bagi seseorang yang berada DI DALAM sebuah negara untuk KELUAR dari negara itu. ==> DITANGKAL atau Tangkal adalah pelarangan bagi seseorang yang berada DI LUAR sebuah negara untuk MASUK ke neger itu.

Nah, selama ini HRS diributkan dalam kondisi DICEKAL, artinya dia berurusan dengan pemerintah Arab Saudi yang melarang HRS, yang sedang berada DI DALAM wilayahnya, untuk KELUAR dari wilayah Arab Saudi. Artinya PENCEKALAN HRS TIDAK ADA SANGKUT PAUTNYA DENGAN KBRI. Dalam kondisi seperti ini, BIASANYA setiap WNI akan meminta bantuan KBRI untuk menghubungi pemerintahan yang mencekalnya. Tapi kan HRS tidak pernah meminta KBRI. Jangankan meminta, mendatangi KBRI saja tidak. Apa dia pikir KBRI yang harus datang ke rumahnya seperti para pejabat Indonesia yang mendatangi kediaman dia di Arab Saudi sana? Ya tidak lah. Karena KBRI itu adalah wakil dari pemerintah Indonesia. Wakil Negara.

Selayang Pandang Tentang KBRI Di Arab Saudi

Kalau saya membandingkan beban setiap KBRI di negara-negara yang pernah saya kunjungi, sepertinya KBRI Arab Saudi adalah KBRI yang paling sibuk mengurusi WNI. Kebanyakan dari diplomat yang ditugaskan di KBRI dan Konsulat RI di Arab Saudi, hampir tidak pernah tidur saking banyaknya masalah yang menimpa WNI di sana. Misalnya menyelamatkan WNI yang terancam hukuman mati di pancung atau digantung adalah satu kesibukan yang menjadi prioritas utama mereka. Jadi, kalau di tanah air ada berita satu WNI yang akhirnya dieksekusi, itu terjadi setelah pihak KBRI berjibaku untuk menyelamatkan si WNI, tetapi tidak pidana yang dilakukan terlalu berat untuk membebaskan si WNI dari hukuman. Di luar dari satu berita itu, ada banyak sekali WNI yang sudah diselamatkan dari hukuman lewat jalur diplomasi. Belum lagi, kasus WNI yang diperkosa, disiksa, TKI ilegal, WNI yang hilang paspor, human trafficking, dan masih banyak lagi masalah kewarganegaraan, mengingat Arab Saudi adalah negara yang menerima jumlah TKI terbesar di dunia.

Menjadi Duta Besar untuk Arab Saudi sangat tidak gampang. Dan jika FPI mendesak Jokowi untuk memecatnya, apakah FPI juga mengajukan nama calon penggantinya? Apalagi Agus Miftah Abegebriel ini adalah Duta Besar terlama untuk Arab Saudi. Dia dilantik pada tahun 2014, seharusnya jabatannya 5 tahun, artinya tahun 2019 sudah harus diganti, tapi ini tidak. Ada kemungkinan besar, malah akan diperpanjang lagi. Artinya permintaan FPI itu benar-benar sebuah permintaan yang mustahil bin mustahal. Hanya untuk kepentingan pribadi dan golongan, FPI tak peduli apapun yang terjadi jika Duta Besar dipecat. Untungnya itu hanya sebuah desakan dalam impian. Dan sebaiknya jangan bangun biar mimpinya lama dan berasa seperti sebuah kenyataan.

Ada bunga di taman, bisa bikin taman tambah indah, tapi taman Indonesia ini sekarang sedang diserang cacing tanah.... apa yang bisa kita semua lakukan???

No comments

Powered by Blogger.
------------------------------