(Lawan Asing!!) TNI Turunkan Pasukan Ke Ambalat, Perbatasan Indonesia Dan Malaysia

Berita Terkini - Prabowo pernah berkata, “Seandainya pun, umpamanya kemarin Saya yang presiden, saya lihat kok ini ini saya akan milih juga untuk kabinet saya”. Intinya dia berkata akan memilih menteri-menteri yang Jokowi pilih.

Hal tersebut memang tidak mungkin terjadi karena tidak mungkin kita kembali ke masa lalu dimana pemilihan presiden akan segera berlangsung, kita juga bisa menaruh banyak kecurigaan dan berbagai teori konspirasi terhadap ucapan Prabowo tersebut.

Namun, di sini penulis mau mencoba objective, karena selama menjabat sebagai menteri pertahanan, sejauh yang penulis perhatikan pernyataan-pernyataan beliau selalu konsisten dalam membela Jokowi dan kabinetnya. Walaupun kadang gemes juga melihat Fadli Zon yang masih sering menyerang Jokowi dan tidak pernah ditegur.

Ucapan di atas, senada dengan ucapan Prabowo saat memuji tim kabinet Jokowi sebagai berikut :

"Saya bukan mau sok merendah, tapi kita ini satu tim. Satu tim. Kabinet itu satu tim. Nggak ada orang yang bisa kerja sendiri," kata Prabowo dalam wawancara khusus courtesy DPP Partai Gerindra seperti dilihat Selasa (13/10/2020).

Lalu sebagai ketua dari partai yang tergabung dalam 7 fraksi pendukung Omnibus Law, Prabowo juga membela Jokowi dengan berkata bahwa Jokowi membuat Omnibus Law dengan niat baik terhadap rakyat kecil.

Penulis setuju dengan Prabowo, memang tidak mungkin menyenangkan semua pihak, namun coba kita melihat dari berbagai sudut pandang, maka kita akan melihat bahwa Jokowi berusaha membuat agar undang-undang tersebut seimbang dan adil untuk semua pihak.

Dari pernyataan Prabowo, yang mengejutkan adalah Prabowo mengatakan adanya pihak asing yang terlibat dalam penolakan Omnibus Law ini. Seperti kita tahu sekarang saja Indonesia sedang konflik dengan Uni Eropa soal pembatasan ekspor Nikel.

Lalu penolakan 35 investor yang tidak pernah investasi di Indonesia, semakin menguatkan adanya campur tangan asing dalam penolakan Omnibus Law. Ucapan Prabowo semakin menjadi kenyataan ketika anggota parlemen Malaysia, juga turut menolak Omnibus Law.

Dan hari ini, sehari setelah Malaysia ikut campur tentang Omnibus Law, tampaknya semua semakin terbuka, dengan memanasnya konflik Indonesia dan Malaysia di Ambalat. Perbatasan Indonesia dan Malaysia tersebut menyimpan kekayaan alam yang luar biasa.

Tidak tanggung-tanggung, hari ini TNI mengerahkan kapal perang di Ambalat. Indonesia tidak seperti era SBY lagi, era Jokowi kali ini jangan harap ada yang bisa mengganggu kedaulatan Indonesia, termasuk Malaysia yang sudah banyak mencuri kebudayaan Indonesia pada era SBY, dimana sang presiden hanya bisa membalas dengan petikan gitar dan lagu berjudul prihatin.

Dilansir dari wartaekonomi :

Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Laut (AL) memperketat keamanan di perbatasan NKRI dengan Malaysia, di Perairan Ambalat.

Tak tanggung-tanggung beberapa unsur kekuatan TNI AL yang tergabung dalam Satuan Tugas Perisai Sakti 2020, dilibatkan untuk memperketat wilayah Ambalat.

Dalam siaran tertulis TNI AL, Sabtu 17 Oktober 2020, ada dua kapal perang sekaligus dikerahkan ke Ambalat, yaitu KRI Diponegoro-365 dan KRI Layang-635. Selain itu, satu tim dari Satuan Komando Pasukan Katak (Kopaska) juga dilibatkan dalam kegiatan itu.

Mau tidak mau, suka atau tidak suka. Prabowo adalah menteri pertahanan yang membantu Jokowi untuk mengurusi pertahanan negara. Penulis harus objective dan angkat topi kali ini untuk Prabowo.

Kesimpulan :

Jangan kaget jika ke depan akan banyak campur tangan asing terhadap Omnibus Law ini. Karena ekonomi adalah siklus, setelah pandemi ini ekonomi akan kembali bergerak naik. Investor besar yang sekarang kebanyakan di China, akan mencari negara lain dengan iklim investasi menarik.

Kita tidak tahu kapan pandemi berakhir, tapi Jokowi sedang menyiapkan semuanya demi menyambut Indonesia sebagai kekuatan ekonomi dunia sesuai prediksi banyak ahli dunia.

Mungkin ketika saatnya datang, Jokowi sudah tidak menjabat. Mungkin nanti penggantinya yang akan mendapat pujian, sementara Jokowi saat ini menerima hinaan bertubi-tubi. Jokowi rela terhina, bagai orang miskin, dan teraniaya, agar Indonesia bisa menjadi negara maju.

Siapa yang mau mendukung Jokowi, mari bersama penulis suarakan kebenaran. Dan untuk kadal gurun yang selalu melihat keburukan Jokowi, hanya ada satu kata. Lawan!!

No comments

Powered by Blogger.
------------------------------