Analisis Pakar: Ada Bayang-bayang Kegagalan Nyapres di Balik Kritik Gatot


Berita Terkini - Pernyataan Gatot Nurmantyo soal oligarki kekuasaan dalam acara deklarasi Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) dinilai akibat kepentingan politik mantan Panglima TNI itu tak terakomodasi. Ada bayang-bayang kegagalan nyapres di balik kritik Gatot tersebut.
Analisis itu disampaikan pengamat politik M Qodari saat dihubungi, Selasa (18/8/2020). Sebelum menjelaskan mengenai maksud kritik Gatot, Qodari terlebih dahulu mengemukakan penjelasan dasar mengenai oligarki.

"Mengenai oligarki ya, setau saya itu adalah kekuasaan oleh sekelompok orang, nah pertama catatannya adalah memang oligarki ini sudah lama jadi wacana politik, ilmu politik dan sosiologi, ada penulis penulis sudah katakan bahwa ketika meneliti salah satu partai itu partai yang awalnya demokratis tapi setelah berdiri dan berproses ternyata menjadi elitis dalam arti dikendalikan oleh sekelompok elite saja gitu," kata Qodari.

"Nah ini semua sebetulnya adalah kritik kritik yang banyak dilontarkan kepada demokrasi ya, dalam pengertian bahwa seperti Robert Michels katakan walau proses suatu negara melangsungkan kegiatan demokrasi ya sebetulnya yang berjalan tetap oligarki," sambungnya.

Qodari menyebut realita yang terjadi struktur politik di seluruh dunia termasuk Indonesia itu seperti piramida yang pada pucuknya dipimpin oleh sekelompok elite. Dia lantas menyebut Gatot Nurmantyo sendiri juga sebagai elite itu sendiri.

"Saya kira begitu lah realita kehidupan, bahwa sebetulnya struktur politik maupun struktur sumber daya di dunia ini sebetulnya berbentuk piramida, ada kelompok masyarakat menengah ke bawah jumlah banyak sekali, lalu kalangan menengah yang jumlahnya semakin kecil gitu, dan kemudian baru paling atas baru di pucuk piramida adalah para elite di bidang masing-masing, jadi demikian realita kehidupan ya, artinya notabene pak Nurmantyo sendiri boleh dikatakan the power of elite itu, baik ketika menjabat jenderal maupun sekarang," paparnya.

Oleh karena itu, Qodari menilai ada maksud dan tujuan politik lain di balik pernyataan Gatot Nurmantyo soal oligarki saat deklarasi KAMI. Dia menduga memang selama ini kepentingan politik tokoh-tokoh di KAMI termasuk Gatot tidak terakomodasi.

"Alasan berkumpul bervariasi bermacam macam. Ada orang yang punya ide gagasan yang selama ini tidak terakomodasi pemikirannya, atau justru supaya pemikiran diakomodasi maka bergabung dengan nama nama lain sehingga masukan dan saran tidak berdiri sendiri tapi merepresentasikan sekelompok orang dengan harapan punya daya gedor lebih besar," ujarnya.

Barulah Qodari menyinggung kegagalan Gatot maju pada Pilpres 2019. Bagi Qodari, kritik Gatot soal oligarki kekuasaan itu bisa saja berkaitan dengan terhalanginya Gatot pada pemilu lalu.

"Kedua bisa saja concern pada situasi saat ini yang menurut beliau beliau tidak ideal, tidak mencerminkan kondisi seharusnya kata Pak Gatot ini sekarang oligarki walau sebagian orang katakan ini masih poliarki masih demokrasi. Kemungkinan lainnya tokoh tersebut tidak terakomodasi secara politik juga amat sangat mungkin," ucapnya.

"Pak Gatot misal dulu diwacanakan, atau kabarnya diwacanakan sebagai Capres, mau maju Capres tapi tidak jadi maju atau tidak bisa maju, pengalaman itu yang membaut Pak Gatot mengatakan ada oligarki yang halangi beliau maju Capres di tahun 2019," sambungnya.

Selain itu, Qodari juga menilai ada tujuan lebih jauh dari dibentuknya KAMI ini. Menurutnya bisa saja KAMI dibentuk untuk dijadikan partai politik di kemudian hari.

"Ya tentu bisa jadi ada kemungkinan berikutnya misalnya KAMI disiapkan sebagai sebuah parpol di masa yang akan datang, tidak mustahil juga, tapi saya tidak komentar karena penyataan ini tidak keluar dari KAMI, tapi sudah pola yang sering terjadi dimana elit membangun parpol diawali sebuah gerakan sosial ke masyarakat, Pak Wiranto buat Hanura awalnya Ormas, Pak Surya Paloh buat NasDem juga awalnya ormas, nggak mustahil juga KAMI nanti ujungnya jadi parpol mungkin begitu," sebutnya.

Sebelumnya, Gatot hadir dalam pendeklarasian KAMI, yang digelar di Tugu Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (18/8). Gatot berbicara kondisi Indonesia akibat proxy war yang diperburuk karena berkembangnya oligarki kekuasaan.

"Salah satu bahaya dari proxy war yang saya katakan diperburuk dengan tumbuh kembangnya oligarki kekuasaan di negeri, kekuasaan dimainkan, dikelola oleh kelompok orang dan tidak beruntung lagi, mereka melakukan dengan topeng konstitusi apakah benar ini terjadi pada negeri kita? Biar rakyat yang menjawab," kata Gatot dalam sambutannya.

No comments

Powered by Blogger.
------------------------------