Tak Mau Pulang, Turis China di Bali Sebut Negaranya seperti Penjara Besar akibat Korona


Berita Terkini - Ratusan turis China yang berlibur di Bali berupaya untuk tidak pulang karena khawatir terinfeksi virus korona atau Covid-19. Mereka memperpanjang izin tinggal sampai situasi di negaranya benar-benar aman.

Indonesia telah menutup semua penerbangan menuju dan dari China sejak Februari. Pemerintah China sebenarnya telah menjemput warga mereka di luar negeri, termasuk Indonesia, namun hanya puluhan orang yang memanfaatkannya.

Penolakan pulang itu setidaknya disampaikan Li, turis China yang bekerja di sebuah perusahaan Eropa.

Dia mengaku seperti pengungsi yang bertahan di negeri orang untuk menghindari dampak buruk di kampung halaman.

"Saya seorang pengungsi internasional. China seperti penjara besar, semua kota diisolasi," kata pria yang hanya menyebutkan nama keluarga itu, kepada AFP.

Li mengaku tak percaya dengan jaminan Pemerintah China bahwa virus korona telah berhasil dikendalikan.

Meski demikian Li mengaku punya kekhawatiran. Istri dan dua anaknya yang masih kecil ditinggal di kampung halaman sampai menunggu krisis kesehatan di negaranya berakhir. Selain itu dia juga mengkhawatirkan pekerjaannya. Sebagai manager perusahaan multinasional, dia tetap harus menggerakkan anak buah.

"Saya seorang manager, tidak bisa meminta anak buah melanjutkan bekerja sementara saya sembunyi di sini," katanya.

Sekitar 1 juta turis China mengunjungi Bali setiap tahun, kelompok pendatang terbesar kedua setelah Australia. Turis China menghabiskan ratusan juta dolar AS bagi perekonomian lokal Bali.

Saat wabah virus korona mulai bermula di China, ribuan turis melakukan liburan Tahun Baru Imlek ke Bali.

Sementara itu Kepala Dinas Pariwisata Bali Putu Astawa mengatakan bisa memahami keinginan para turis China untuk bertahan, mengingat kondisi yang belum memungkinkan.

"Saya tidak terkejut. Mereka tidak mau kembali," kata Putu Astawa.

No comments

Powered by Blogger.
------------------------------