Alasan Natuna jadi Tempat Karantina, Bukan Jakarta


Berita Terkini - Menkes Terawan yang berasal dari militer tentunya paham protokoler yang ada di TNI. Sayangnya masyarakat awam umumnya hanya mengetahui penanganan kesehatan oleh sipil bukan militer. Padahal dalam militer ada dokter sendiri yang jelas sama ahlinya sekaligus paham prosedur dalam militer. Banyak warga Natuna yang menyayangkan dipilihnya Natuna sebagai tempat karantina. Bahkan sebagaian mempertanyakan kenapa dikarantina di Natuna bukan Jakarta. Ada alasan yang sangat masuk akal di antara itu semua selain menyuruh mereka berempati.

Sebelumnya Menkes Terawan juga sudah menjamin kesehatan WNI yang dipulangkan dari provinsi Hubei termasuk kota Wuhan. Mengenai pemerintah setempat yang menyatakan kenapa tak minta ijin dulu dengan bupati atau DPRD, rasanya ini tak perlu. Karena lokasi karantina adalah tempat militer bukan di pemukiman warga.

Dilansir dari liputan6.com, berdasarkan aturan internasional, Indonesia harus memiliki sarana dan prasarana untuk mendukung protokoler kesehatan dalam evakuasi warga dari Wuhan.

Salah satu sarana dan prasarana yang diwajibkan adalah tempat isolasi. Setelah berunding dan melakukan analisa, Natuna terpilih menjadi lokasi karantina WNI dari Wuhan.

pangkalan militer Natuna memiliki fasilitas rumah sakit yang mumpuni. Selain itu, letak rumah sakit di pangkalan militer tak jauh dari hanggar. Rumah sakit ini mampu menampung hingga 300 orang.

Tempat itu juga terisolasi karena jauh dari pemukiman warga. Jarak pangkalan militer dengan pemukiman warga, berkisar 6 kilometer.

"Lokasi yang terbaik dan terpilih adalah Natuna," ujar Hadi, dalam konferensi pers di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Sabtu.

Menurut dia, ada sejumlah pertimbangan, pemerintah memilih Natuna sebagai tempat karantina para WNI dari Wuhan ini.

Pertama, pangkalan militer Natuna memiliki fasilitas rumah sakit yang mumpuni. Selain itu, letak rumah sakit di pangkalan militer tak jauh dari hanggar. Rumah sakit ini mampu menampung hingga 300 orang.

"Natuna adalah pangklalan militer yang memiliki fasilitas rumah sakit dan memiliki runway yang berdekatan dengan wilayah karantina. Mampu menampung 300 orang, termasuk dapur," kata Hadi soal karantina WNI dari Wuhan.

Tempat itu juga terisolasi karena jauh dari pemukiman warga. Jarak pangkalan militer dengan pemukiman warga, berkisar 6 kilometer.

"Jarak dari hanggar itu sendiri sampai ke tempat penduduk kurang lebih 5-6 km. Menuju sarapa prasarana, ada dermaga itu 6 km. Hasil penilaian itu, Natuna memiliki syarat untuk protokoler kesehatan," tutur Hadi soal tempat karantina WNI dari Wuhan.

Selain itu sumber tribunnews.com juga mengungkap alasan lain dipilihnya Natuna sebagai tempat karantina. Panglima TNI Hadi Tjahjanto mengatakan Natuna adalah pangkalan militer yang memiliki fasilitas rumah sakit yang dikelola oleh tiga angkatan jadi ada dokter dari Angkatan Udara, Angkatan Darat dan Angkatan Laut.

Natuna juga memiliki landasan pacu pesawat yang berdekatan dengan lokasi isolasi.

"Sehingga nanti saudara kita yg datang langsung turun dari pesawat masuk ke penampungan mereka.

Mampu menampung sampai 300," kata dia.

"Kita memiliki tempat isolasi yang jauh dari penduduk dan yang terpilih adalah Natuna," Hadi.

Menurut Hadi, fasilitas isolasi tersebut sudah dilengkapi fasilitas mandi cuci kakus serta dapur.

Sedangkan jarak dari fasilitas isolasi sampai tempat penduduk 5-6 kilometer.

Natuna terpilih sebagai tempat isolasi karena jauh dari pemukiman penduduk.

"Dari hasil penilaian memiliki syarat untuk protokol kesehatan, sehingga Natuna menjadi transit sementara," kata Panglima.

Sekretaris Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan ( Kemenkes), Achmad Yurianto mengatakan seluruh WNI yang baru saja dipulangkan dari China, akan menjalani masa karantina selama dua minggu atau 14 hari.

Adapun lokasi yang akan digunakan untuk karantina adalah di Pulau Natuna, Kepulauan Riau.

Yuri mengatakan, proses karantina akan berlangsung dari Minggu (2/2/2020) hingga Minggu (16/2/2020).

"Pasti akan dikarantina, karena ini prosedur guna mencegah kemungkinan adanya penyebaran virus corona," kata Yuri saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (1/2/2020).

Dipisahkan sementara

Nantinya, kata Yuri, mereka (yang dikarantina) akan dipisahkan dengan orang lain untuk beberapa waktu.

"Hanya dipisahkan untuk observasi, treatment makan enak minum santai santai happy-happy saja," jelas Yuri.

Ia mengungkapkan bahwa kemungkinan tempat karantina yang akan digunakan bukanlah di rumah sakit.

"Rumah Sakit itu tempatnya orang sakit. Cari hotel, cottage atau apa saja, wisma atau asrama," paparnya lagi.

Lebih lanjut, ia juga menambahkan bahwa yang akan mendampingi para WNI yang dikarantina tersebut adalah tenaga kesehatan yang telah ditunjuk oleh Kemenkes.

Di antaranya yakni satu orang psikiater, tiga orang psikolog, dan satu orang perawat jiwa.

Adapun biaya serta akomodasi dalam proses karantina, akan dibebankan pada anggaran Kementerian Kesehatan.

Terlebih nantinya apabila ditemukan adanya WNI yang positif terinfeksi virus corona, ia menjelaskan bahwa Kemenkes telah menyiapkan 100 rumah sakit rujukan.

"Kami sudah siap tangani. Kan sudah ada 100 RS (rumah sakit) rujukan untuk tangani virus corona ini," katanya lagi.

Yuri mengatakan, hingga hari ini Sabtu (1/2/2020) per pukul 10.00 WIB, WNI dari dalam negeri belum ada yang terinfeksi virus corona.

Jadi, karantina ini sifatnya sementara dan sudah dipikirkan pusat secara matang. Lokasinya yang jauh dari pemukiman dan ditangani oleh militer menunjukkan keseriusan pusat untuk menjamin keselamatan warga sekitar. Karena kalau sudah dikarantina di lokasi militer, tentunya tak bisa bebas berinteraksi apalagi sampai berbaur ke masyarakat. Apa yang ditakutkan? Mereka yang kontak langsung pastinya memiliki perlengkapan medis yang mencegah penularan.

Semoga 14 hari kedepan para WNI yang jumlahnya sekitar 238 orang tersebut dinyatakan sehat dan bisa kembali pulang ke keluarganya. Kalau kita baca diberbagai media, para keluarga WNI di Wuhan yang ada di Indonesia sangat senang dengan kedatangan putra dan putrinya.

Mereka sangat berharap pemerintah pusat bisa memulangkan. Tentunya semua sudah diatur sesuai prosedur. Jangan sampai pemda dan DPRD di Natuna ikut mengompori masyarakatnya alih-alih mengedukasi alasan dipilihnya Natuna.

Saya yakin kalau pemerintah daerah ikut meyakinkan, tak akan ada lagi demo penolakan dari warga Natuna. Intinya selain komunikasi juga kepercayaan pada pemerintah pusat. Di tangan Jokowi negeri ini disegani dunia, tinggal rakyatnya sendiri mau memberi kepercayaan untuk mewujudkan Indonesia maju atau tidak.

Sumber : https://seword.com/umum/alasan-natuna-jadi-tempat-karantina-bukan-jakarta-DRrR28a5Fi

No comments

Powered by Blogger.
------------------------------