Cewek Pro Anies Diduga Ingin Makar Lengserkan Presiden, Laporkan!


Berita Terkini - Benar kata banyak orang, bahwa pendukung yang memilih pemimpin bodoh, adalah sekelompok orang bodoh. Salah satu contohnya adalah pendukung Anies Baswedan, gubernur terbodoh di sepanjang sejarah. Ada akun Facebook bernama Arini Hasanah Setiati dengan bangganya memposting video yang viral.

Sudah cukup kita melihat bagaimana cewek-cewek ini memperlihatkan spanduk bodoh mereka yang bisa berujung kepada penuntutan dan upaya makar. Lengserkan presiden loe? Siapa yang dimaksud dengan “loe”? Mari kita lihat konteksnya.

Secara konteks, kita melihat bagaimana saat demo terjadi, ada dua kubu yang saling berseberangan. Massa pendukung Anies dan massa kontra Anies. Massa bodoh pendukung Anies dan massa cerdas kontra Anies ada di satu lokasi, dan dipisahkan oleh barikade polisi.

Maka kalau mau disebut “Loe”, artinya “loe” itu bisa dirujuk kepada massa kontra Anies yang merupakan gubernur terbodoh di sepanjang sejarah ini.

Massa kontra Anies adalah massa yang merupakan warga negara Indonesia. Mereka ber-KTP Indonesia, mayoritas ber-KTP Jakarta. Mereka memiliki idealisme yang ingin disuarakan. Artinya, “presiden loe” yang dimaksud adalah Joko Widodo. Ini sudah menjadi logika dasar yang tidak bisa dibantah lagi.

Pasal 107 KUHP

(1) Makar dengan maksud untuk menggulingkan pemerintah, diancam dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun.

(2) Para pemimpin dan pengatur makar tersebbut dalam ayat 1, diancam dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara sementara paling lama dua puluh tahun.

Pasal 160 KUHP

Barang siapa di muka umum dengan lisan atau dengan tulisan menghasut supaya melakukan sesuatu perbuatan yang dapat dihukum, melawan pada kekuasaan umum dengan kekerasan atau supaya jangan mau menurut peraturan undang-undang atau perintah yang sah yang diberikan menurut peraturan undang-undang, dihukum penjara paling lama enam tahun atau denda paling banyak Rp 4,5 juta.

Bicara lengser-melengserkan, saya melihat ada dua hal yang timpang di sini. Massa kontra Anies menuntut Anies untuk mundur atau dilengserkan oleh mekanisme yang baik. Tapi melengserkan Anies dengan melengserkan Presiden adalah berbeda secara strata.

Kalau kita lengserkan Anies sebagai gubernur, itu adalah hak rakyat, dan sudah dilakukan bukan tanpa alasan. Sudah banyak tindakan pembiaraan atas kehancuran Jakarta yang tercatat hitam di atas putih dan ada di berbagai media baik cetak ataupun virtual.

Sedangkan untuk melengserkan Jokowi yang merupakan simbol negara, ada diatur dalam UU. Mereka yang ingin melengserkan presiden, bisa dijerat dengan pasal makar. Apalagi memfitnah presiden dengan alasan “terpilih karena sindikat”. Ini fitnah macam apa lagi, wahai kadal gurun mabuk kencing unta?

Saya menunggu ada orang-orang baik yang berani melaporkan kasus dugaan makar dari massa pendukung Anies dan Fahira Idris ini. Video itu viral dan memang diduga kuat melanggar undang-undang yang ada.

Bahkan ada spanduk yang berbunyi “Gak suka Anies, minggat loe dari Jakarta”.

Selain memenuhi unsur makar, spanduk itu juga memiliki unsur “teror”. Warga Jakarta yang mengkritik Anies diteror. Memang Anies ini adalah pemimpin hasil teror ayat dan mayat. Sudah tidak perlu ditanya lagi buktinya. Salah satu saksi adalah keluarga Nek Hindun yang sempat digantung dan tidak disolatkan. Mengapa? Karena tragedi demokrasi.

Sekarang zamannya kebebasan berpendapat. Asal bebas berpendapat dengan baik, seharusnya pendemo yang kontra Anies itu tidak boleh diancam. Apalagi dilempar botol dan dimaki-maki dengan makian kasar sekali.

Sekarang kita lihat bahwa pendukung Anies itujelas-jelas bodoh, karena yang mereka kerjakan, diduga melanggar UU makar. Melengserkan “Presiden loe”? Memang presiden mereka siapa? Bukan Jokowi? Mereka itu orang Indonesia, dan “loe” yang dimaksud juga orang Indonesia.

Semoga saja pembahasan sederhana di atas bisa membuat mata kita terbuka, bahwa masih ada upaya-upaya yang terstruktur, sistematis dan masif untuk menjatuhkan Jokowi sebagai presiden terpilih mayoritas rakyat Jakarta.

Kalau ada spanduk “Gak suka Anies silakan minggat”, saya akan membalasnya dengan sangat mudah. Kalian pasti gak suka Jokowi, maka kalian pindah saja ke Yaman, kampungnya clan Baswedan. Silakan tinggal di sana, kalau bisa bertahan beberapa lama, Anda sukses.

Para pendukung Anies ini, mungkin dengan tidak sadar mempertontonkan kebenciannya kepada Jokowi. Benci Jokowi boleh, tapi kalau sampai bodoh dan melanggar hukum, itu bahaya. Semoga emak-emak itu cepat diciduk polisi, karena dari penjelasan di atas, para cewek-cewek itu bisa digugat.

Berani waktu ramai, kalau sendiri di meja hijau, mungkin akan mewek-mewek dan menangis tak karuan. Ujian keberanian itu harus dilakukan seperti Ahok. Dia sendirian, dan berani berdiri teguh menantang semua yang salah. Hei mak-mak pepes, kalau kamu dituntut, jangan mewek ya. Fahira Idris tidak akan membela Anda. Anies? Apalagi. Itu orang oportunis murni.

Dalam terang demokrasi, saya yakin cewek-cewek ini bisa digugat.

Sumber : https://seword.com/politik/cewek-pro-anies-diduga-ingin-makar-lengserkan-v4Ioqf6hIy

No comments

Powered by Blogger.
------------------------------