Jokowi Jepit dan Dijepit, Penyerang Novel Ditangkap, Jenderal Terbongkar?


Berita Terkini - Dua penyerang Novel Baswedan telah ditangkap dan menjadi tersangka. Keduanya oknum Polri aktif. Penangkapan ini menyampaikan tiga pesan.

Pertama, opini yang mulai dibangun sebagian publik bahwa Novel telah merekayasa kasusnya, langsung gugur. Laporan Dewi Tanjung yang melaporkan Novel telah merekayasa kasusnya, menjadi tak terbukti. Sebaliknya Novel berada di atas angin atas Dewi Tanjung. Dewi Tanjung bisa diseret ke penjara karena pencemaran nama baik.

Kedua, ada keberanian tiga serangkai baru di elit pemimpin Polri, Kapolri Idham Azis, Wakapolri Gatot Eddy Pramono dan Kabareskrim Listyo Sigit Prabowo untuk mengungkap kasus ini secara terang-benderang. Apakah ketiga jenderal ini yang salah satu di antarnya disebut-sebut terkait dengan “Geng Solo” sudah punya keberanian hebat? Jika ya, berarti mantap jiwa.

Ketiga, penangkapan pelaku kasus Novel membuktikan keseriusan Jokowi dalam menyelesaikan kasus Novel ini secara tuntas. Artinya Jokowi ingin menjepit siapapun yang selama ini terus membelenggu dirinya. Jokowi tidak mau membela siapapun yang salah dan telah membebani pemerintahannya. Apalagi kasus Novel itu sudah cukup melelahkan.

Menilik ke belakang, pengungkapan kasus Novel itu memakan waktu yang cukup lama. Total 990 hari sejak Novel mengalami penyerangan, yakni 11 April 2017.

Lalu mengapa kasus ini begitu sulit diungkap Polri? Inilah pertanyaan besar publik yang mengguncang setiap nalar.

Kasus Novel ini sendiri ditenggarai sarat dengan berbagai kepentingan. Bagi Jokowi sebagai Presiden, gara-gara kasus Novel tersebut, ia dijepit oleh lawan-lawannya. Dalam kampanye Pilpres lalu, kasus Novel ini digoreng, dicincang dan ditumis oleh kubu Prabowo yang membuat Jokowi terhuyung-huyung.

Tak tahan tekan bertubi-tubi saat itu, atas rekomendasi Komnas HAM, Presiden Jokowi meminta Kapolri membentuk, mendukung dan mengawasi pelaksanaan tim gabungan pencari fakta peristiwa dan pelaku kasus Novel. Pada tanggal 8 Januari 2019 atau beberapa hari sebelum debat Pilpres,

Polri akhirnya membentuk tim gabungan pengungkapan kasus Novel Baswedan. Hingga 11 April 2019, tim gabungan belum bisa mengungkap pelaku dan motif penyerangan air keras kepada Novel. Masa kerja tim gabungan kemudian diperpanjang hingga 7 Juli 2019. Namun saat mengumumkan hasil temuannya tim pencari fakta yang beranggotakan 65 orang itu tak berhasil mengumumkan nama pelaku maupun aktor intelektual penyerangan.

Jokowi sendiri tidak mau dijepit dalam kasus itu. Ia juga menjepit institusi Polri agar mengungkap lebih cepat kasus Novel itu. Dalam pertemuannya dengan Kapolri Idham Azis pada Senin (9/12/2019) di istana, Jokowi menginginkan sebuah ketegasan. Jokowi ingin secepatnya diumukan temuan baru yang menuju kesimpulan. “Sore kemarin sudah saya undang Kapolri, saya tanyakan langsung ke Kapolri. Saya juga ingin sebuah ketegasan ada progress atau tidak”, ujar Jokowi dilansir Youtube Sekretariat Presiden, Selasa (10/12/2019).

Kasus penyiraman air keras kepada Novel memang menyita perhatian publik. Banyak pihak kenapa kasus yang sebetulnya tidak terlalu rumit itu, sulit diungkap oleh polisi. Jika alasannya adalah pelakunya terlalu cerdas atau sangat pintar menyamar, bukankah di intitusi Polri berjibun orang-orang hebat? Jelas alasan ini tidak masuk di nalar. Ada alasan lain kenapa kasus Novel itu sulit diungkap.

Dugaan publik cenderung mengamini ungkapan dari Novel sendiri. Bahwa ada oknum Jenderal yang terlibat dalam kasusnya. “Berkali-kali saya sampaikan bukan sekedar saya sebagai korban, tapi lihat penyerangan terhadap KPK secara fisik sering terjadi, bahkan saya mempunyai keyakinan dan dugaan kuat beberapa kejadian itu pelakunya sama, maksudnya oknum Polri yang terlibat jenderalnya sama,”ujar Novel di lokasi penyerangan dirinya di Kelapa Gaidng, Jakarta Utara, Minggu (17/6/2018) sebagaimana dilansir oleh Detik.com.

Lalu siapakah jenderal itu? Jika menilik ke belakang, maka publik paham sosok jenderal yang berseteru dengan Novel. Masalahnya sosok jenderal ini punya pengaruh posisi dan pengaruh yang sangat kuat saat ini. Alasan ini lebih masuk akal. Kasus ini tak bisa diungkap karena keterlibatan jenderal yang saat ini punya posisi kuat.

Nah di sinilah buah simalakamanya. Jika diusut maka ada sosok jenderal yang terlibat. Jika Polri tegas, maka sosok jenderal itu akan mengamuk. Amukannya barangkali bisa membuat kegaduhan luar biasa. Sebaliknya jika kasus Novel ini tidak diungkap, maka menjadi beban bagi Presiden Jokowi. Kasus itu menjadi catatan hitam dalam jejak pemerintahannya.

Tentu saja Jokowi tidak mau dibebani gara-gara oknum jenderal itu. Sebagai Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata, Kepala negara dan Kepala pemerintahan, Jokowi tidak mau didikte oleh sosok jenderal itu. Ia ingin jika ada sosok jenderal sebagai otak atau dalang dalam kasus Novel itu, ikut diproses secara hukum. Jokowi yang berkepala batu tidak mau tunduk kepada sosok jenderal itu.

Keinginan Jokowi yang tegas itu tentu tidak segampang membalik telapak tangan. Bagi Institusi Polri ada berbagai skenario dalam mengungkap kasus itu.

Pertama, dua pelaku yang ditangkap itu apalagi dari oknum polisi aktif bisa dibongkar motifnya hingga menyeret sosok jenderal seperti yang disebut Novel. Jika skenario pertama ini yang dipilih, maka publik siap-siap heboh.

Kedua, pelaku hanya berhenti pada dua pelaku yang telah ditangkap dan barangkali ada pelaku lain namun tidak menyeret jenderal. Jika skenario kedua ini yang dipilih, maka selamatlah jenderal. Ini juga sebagai win-win solution atas kasus Novel. Memang tidak memuaskan semua pihak, namun sekurang-kurangnya sedikit melegakan.

Mari kita saksikan proses pengungkapan kasus Novel itu selanjutnya. Begitulah kura-kura.

Sumber : https://seword.com/politik/jokowi-jepit-dan-dijepit-penyerang-novel-xHco4hYvrb

No comments

Powered by Blogger.
------------------------------