Telak!!! Temuan Polri Buktikan Novel Dkk Tukang Sebar Hoaks?


Berita Terkini - Masih ingat CCTV berkaitan buku merah yang diviralkan kembali oleh media Tempo dan Tirto. Motifnya diduga kuat menjatuhkan nama Kapolri Tito Karnavian dengan menyebut menerima aliran uang dalam kasus suap impor daging merah. Selain itu Tito difitnah seolah-olah dalang penyiraman air keras. Selain tak terbukti, Novel dan media buzzernya seakan kena karma bertubi-tubi dari kelakuannya. Temuan polri bukan hanya membantah buku merah tetapi membantak banyak kejanggalan kasus Novel dari segi lain. Selain itu, viralnya video Novel yang baik-baik saja di bandara Singapura menambah catatan hitam bagi Novel.

Kenapa penyelidikan kasus buku merah yang telah dinyatakan tuntas oleh kepolisian tiba-tiba diviralkan kembali oleh Novel beserta medianya. Beritanya seperti dilansir bisnis.com, Polda Metro Jaya telah menghentikan penyidikan kasus dugaan pengrusakan buku merah yang beberapa waktu lalu menyeret sejumlah nama tokoh nasional.

Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Muhammad Iqbal mengungkapkan bahwa tim penyidik Polda Metro Jaya telah melakukan gelar (ekspose) kasus tersebut yang dihadiri oleh pihak KPK, Kejaksaan dan Kepolisian. Dari hasil ekspose kasus tersebut, menurut Iqbal tidak ditemukan bukti dan fakta yang cukup mengenai kasus pengrusakan buku merah.

“Semua yang mengikuti proses gelar perkara itu sepakat bahwa tidak terbukti adanya perobekan barang bukti sebagaimana yang diisukan,” kata Iqbal.

Kurangnya alat bukti terkait perkara tersebut juga membantah bukti rekaman CCTV yang beberapa waktu lalu sempat viral ihwal sejumlah orang yang berada di ruang kolaborasi Gedung KPK.

“Bahkan, di dalam rekaman CCTV yang beredar, sengaja disebarkan untuk menggiring opini tak berdasar, itu juga tidak ditemukan bukti bahwa terjadinya proses perusakan,” ujarnya.

Sebelumnya, Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Agus Rahardjo mengaku pihaknya telah melakukan pemeriksaan terhadap rekaman CCTV yang viral tersebut. Menurutnya, dari hasil pemeriksaan itu, tidak ditemukan fakta adanya pengrusakan dan penyobekan buku merah itu.

“Pengawas internal sudah memeriksa kamera, kamera memang terekam, tapi secara ada penyobekan, tidak terlihat di kamera itu,” tutur Agus Rabu (10/10)

Selain tuduhan buku merah yang tak terbukti, Novel juga sempat menuduh kepolisian menghilangkan sidik jari. Hal itu dibantah langsung oleh eks Kapolri Tito Karnavian seperti diberitakan kompas.com. Sidik jari yang semestinya bisa menjadi petunjuk untuk menemukan pelaku, disebut hilang karena cangkir yang ditemukan dalam kondisi basah.

"Sidik jari memang tidak ada atau tidak ditemukan di dalam botol atau gelas yang ada," kata Kapolri Jenderal Tito Karnavian pada 31 Juli 2017, saat melakukan konferensi pers di Istana Kepresidenan, Jakarta.

Karena basah, serbuk yang digunakan oleh kepolisian sebagai alat pengungkap, tidak dapat bekerja dengan baik.

"Saat akan di-swipe menggunakan serbuk, di situ masih basah sehingga sidik jarinya menjadi hilang dan serbuknya tidak bisa membaca sidik jarinya," ujar Tito.

Sedang Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono menduga pelaku menggunakan sarung tangan saat melakukan aksinya, sehingga tidak ada jejak sidik jari yang tertinggal.

"Jadi gini, itu adalah cairan H2SO4 ya, kalau kena tangan melepuh, kalau kena celana jeans itu berlubang, kira-kira apakah pelaku pakai tangan telanjang? Kami ada beberapa kemungkinan, (pelaku) bisa pakai sarung tangan," ujar Argo, di Mapolda Metro Jaya, 23 Agustus 2017.

Setelah mempertanyakan sidik jari, Novel juga mencurigai CCTV yang tidak digunakan sebagai alat bukti seperti diberitakan kompas.com. Novel yang mengaku pesimistis terhadap kinerja kepolisian menangani kasusnya, menyayangkan tidak adanya pemeriksaan rekaman closed circuit television (CCTV) yang sebenarnya merekam kejadian pagi itu.

"Kenapa sih tidak mau diungkap? Ini serangan tidak terjadi pada tempat tersembunyi. CCTV tidak diambil polisi, dua minggu sebelumnya ada perampokan dan polisi mengambil CCTV tersebut dan menemukan pelaku. Artinya, polisi atau penyidik Polri yang bertugas mestinya tahu ada CCTV, tapi untuk kasus saya mereka tidak mengambil," kata Novel.

Namun, di pihak lain, Argo Yuwono mengaku telah memeriksa CCTV yang ada di dekat kediaman Novel hingga 1 kilometer dari lokasi penyerangan terjadi. Setidaknya puluhan CCTV diperiksa namun wajah kedua pelaku tidak terekam dengan jelas.

Karena itu, kepolisian berinisiatif untuk mengirimkan 3 video CCTV untuk dibaca Kepolisian Australia yang memiliki kemampuan lebih dalam untuk menemukan wajah pelaku.

Dengan demikian sketsa wajah pelaku dapat dibuat dengan lebih detil sesuai keterangan yang diberikan para saksi.

Sementara 50 CCTV lain telah diamankan dan 100-an toko kimia diperiksa. Dan tetap, pelaku belum ditemukan.

Dengan banyaknya tuduhan dan kecurigaan Novel yang tak terbukti, jangan salahkan kalau kemudian banyak kecurigaan yang malah menyudutkan Novel. Banyak netizen kemudian meragukan resume medis dari Singapura yang digemborkan buzzer Novel (@partaisocmed). Mulai dari tahun yang tertulis 2008 hingga ejaan nama bahasa inggris yang seharuanya menggunakan nama keluarga Mr.Baswedan, disitu malah tertulis Mr.Novel. Di bawah surat tertulis Yours Sincerely yang seharusnya Sincerely Yours.

Selain meragukan keaslian resume medis, netizen juga memaklumi kepolisian yang sukar menangkap pelaku yang melakukan aksinya waktu subuh sehingga susah mengenali wajah. Selain itu, zat kimia asam sulfat tidak pekat yang dipakai sempat dicurigai sebagai bagian sandiwara Novel dan komplotannya dipakai melukai diri karena tak berbahaya bagi kulit saat diberi air mengalir (air wudhu yang tak jauh dari lokasi). Sayangnya mereka tak mengetahui dampaknua bisa serius saat mengenai bola mata yang mengakibatkan kebutaan.

Netizen juga bertanya-tanya kenapa dari rekaman CCTV penyiram yang datang dari arah kanan (belakang), tapi justru mengenai mata Novel yang kiri. Dan terakhir temuan yang menggemparkan video viral yang diunggah channel NET.Z seminggu setelah Novel disiram air keras di Singapura, dia kedapatan melirik arah wartawan dengan pandangan mata normal. Mungkinkah Novel hanya bersandiwara dengan menggunakan kontak lens berupa mata cacat? Secara logika, perawatan di Singapura harusnya menormalkan kembali bukan malah memperburuk kondisi mata.

Novel dan buzzernya, @partaisocmed pasti tak terima kalau kasusnya dikatakan rekayasa sampai membuat wadah dukungan pada KPK dan Novel di media sosial yang dinamakan semut rangrang. Seharusnya Novel dkk juga intropeksi diri karena selama ini mereka tak sabar dan menuduh kepolisian dan pemerintah tak serius. Apalagi fitnah keji yang menyebut eks Kapolri dalang penyiraman. Mungkin Novel saat ini menuai karmanya karena tak fokus mencari pelaku malah framing sana sini yang menyudutkan kepolisian. Akibatnya metizen satu persatu mulai menampakkan kejanggalan kasus Novel yang kemudian disimpulkan direkayasa oleh Novel itu sendiri.

No comments

Powered by Blogger.