Analisa: Kenapa Banyak dari Kubu 02 Merapat ke 01?



Berita Terkini - Banyak orang mengatakan bahwa politik itu cair. Politik itu tidak kenal lawan dan tidak kenal kawan. Politik itu pada esensinya adalah abu-abu. Tidak ada yang bisa mencari hitam dan putih di antara abu-abu. Politik secara fundamental adalah politik yang tidak kenal itu.

Tapi berbeda di Indonesia. Politik di Indonesia dianggap sebagai sesuatu yang suci, dan bahkan ada orang yang rela menurunkan agama mereka ke level politik.

Di Indonesia, politik itu membuat orang terpecah belah. Tapi ada hal yang unik di sini. Kenapa sebagian kubu 02 sekarang merapat ke kubu 01? Apa yang terjadi? Begini analisisnya…

Pertama, kubu 01 terlalu kuat untuk dikalahkan. Seharusnya mereka ini sadar jauh-jauh hari sebelumnya. Mari kita asumsikan bahwa mereka (kubu yang melacurkan dirinya ke 01) ini adalah sekelompok orang yang terlalu optimis sampai tidak realistis.

Realistis dan optimistis harus dijaga keseimbangannya. Mereka ini terlampau optimis, sehingga tidak realistis.

Secara gamblang, Jokowi adalah pemimpin yang dicintai rakyatnya. Jokowi adalah pemimpin yang membahadur di dalam kalangan orang-orang Indonesia. Dia memimpin dengan kerendahan hati. Dia memimpin dengan kebaikan dan kepedulian kepada bangsa dan negaranya.

Rakyatnya suka dan mencintai Jokowi. Rakyat mengasihi Jokowi. Mereka tidak melihat itu. Mereka baru sadar dan dibuat ternganga dengan sedikit tetesan liur najis mereka, melihat Jokowi menang.

Mereka tahu dalam hati kecil mereka, Quick Count itu benar. Maka mereka perlahan-lahan balik badan dari Prabowo yang sedang kebingungan dan tidak terima kekalahannya yang ketiga kalinya.

Usaha sih boleh, tapi ya pasti ditinggal jauh-jauh kalau kalah. Prabowo ini memang ditakdirkan untuk jadi pecundang. Maka dia ditinggalkan.

Kedua, kubu 01 ini dianggap sangat dermawan dan merangkul siapapun. Mereka para pelacur politik itu berpindah ke kubu 01 dengan mudah. Mereka tahu kalau mereka kalah, 01 akan merangkul. Jokowi bisa dikatakan sebagai sosok yang merangkul.

Memang secara natur, Joko Widodo lahir dari rakyat kecil. Hatinya mudah tersentuh. Ia tahu bagaimana perasaan menjadi rakyat kecil. Maka karakter ini juga terbawa ketika dia berkoalisi dengan mantan rivalnya.


Kita lihat bagaimana kejamnya PAN dengan keberadaan si Mbah Sengkuni itu mem-pekok-pekoki Jokowi. Tapi dia masih menerima Zulkifli Hasan dan menjamunya di istana. Tidak bisa dibayangkan ketika Jokowi bertanya “Mas Zulkifli mau apa?”.

Zulkifli bisa saja menjawab “Mas saya mau kursi MPR. Apa yang bisa saya berikan?” Dan Jokowi menjawab…. “Bukan Mas, bukan itu. Maksud saya, Mas mau tak berikan telor goreng atau ayam rebus?”

Dan Zulkifli pun mingkem dan tersenyum mengernyit. Memang mereka ini penjilat dan tidak konsisten. Politik etika itu sudah tidak ada bagi mereka. Tidak tahu malu.

Mereka tahu juga kalau mereka ada di kubu 01 dan kubu 01 kalah, kubu 02 akan menghabisi mereka satu per satu. Jadi paling aman adalah memilih kubu 02. Ini adalah strategi mereka dalam bermain aman.

Mereka tidak bakalan bisa menjadi sosok yang dipilih rakyat. Tidak ada yang abadi dalam hal ini. Mereka benar-benar pengecut dan tidak berani mengambil resiko. Belajar dulu sana dari PSI! Sungkem sama Grace. Berlutut di hadapannya. Belajar menerima kekalahan.

Ketiga, kubu 02 itu terlalu ringkih dan rapuh. Seperti kapur yang digoreskan ke papan kayu. Hancur itu kapur sampai rusak. Kapur itu kalau dibenturkan ke papan, yang hancur kapurnya. Koalisi ringkih dan ngapur ini benar-benar dungu. Mereka sudah mendapatkan apa yang mereka inginkan dari Prabowo.

Mesin ATM di Prabowo bernama Sandiaga ini sudah ludes. Katanya Andi Arief, Sandi mampu bayar 1 T. Sekarang dia menjeduk-jedukkan kepalanya ke tembok karena rugi bandar? Lihat itu PKS suaranya besar. Kenapa? Dapat infus dana? Bisa iya, bisa tidak.

Keempat, kubu 02 adalah pilihan paling aman. Kalau mereka menang, mereka berkuasa bersama-sama. Kalau mereka kalah, tidak ada tekanan untuk membuang Prabowo ke tong sampah politik. Tapi semuanya selesai, semuanya hancur. Prabowo lagi-lagi jadi pecundang.


Lihat deh, secara tubuh, Jokowi lebih kecil dari AHY. Tapi secara aura, AHY itu masih terlalu junior. Pikirannya ditawan oleh Jokowi.Jokowi terlihat begitu mendominasi AHY. Jokowi gak takut apapun coy.

Sekarang giliran mereka ke kubu Jokowi. Jadi begitulah analisis penulis yang abal-abal. Semoga tidak penting.

Begitulah penting-penting.

Sumber : https://seword.com/politik/analisa-kenapa-banyak-dari-kubu-02-merapat-ke-01-EwUvrVifr

No comments

Powered by Blogger.