PKB : "Nggak Ada Hujan Kok Banjir ?", Banjir Kiriman Lebih Berbahaya Karena Warga Tak Siap.


Berita Terkini - Anies seperti sedang menuai badai, mengikuti ungkapan “Siapa menebar angin, ia menuai badai”. Kenapa dikatakan demikian ? Ingat video Anies yang menyerang kebijakan pendahulunya, bahwa pemerintah telah melawan sunatullah ?

Menurut Anies ketika itu, dari dulu air selalu masuk ke perut bumi, kalau dipaksa dipompa ke laut, itu menyalahi takdir....bla..bla. Dan lihatlah akibat pemahaman seorang amatir, bandingkan dengan pemanfaatan teknologi ala kota Amsterdam.

Kontur kota yang berada di bawah permukaan air laut, kota di negeri kincir angin itu mampu mengendalikan banjir rob, yang harusnya mengubur seluruh wilayahnya. Kenapa hal itu ditentang oleh Anies, seakan-akan air adalah takdir yang tidak bisa dilawan.

Tampaknya Anies sedang amnesia alias lupa ingatan temporer, bahwa air sebagaimana juga manusia yang tidak bisa terbang. Lalu kenapa manusia bisa melawan takdir, dan bahkan terbang lebih cepat dibanding burung ? Kalau pemikiran penemu pesawat terbang sama dengan Anies, barangkali kita hingga saat ini tetap memanfaatkan kuda untuk bisa menuju ke kawasan lain dunia.

Sejatinya air merupakan salah satu anugrah yang harus disyukuri. Dan salah satu cara menyukurinya, adalah dengan memanfaatkannya seoptimal mungkin. Siklus musim yang cukup menguntungkan bagi alam Indonesia, harusnya disikapi dengan mengendalikan siklus tersebut, sehingga tak membawa bencana ketika datangnya berlebihan, sebaliknya bisa dipakai ketika musim paceklik tiba.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan banjir di Jakarta disebabkan oleh kiriman dari daerah lain. Ketua DPW PKB DKI Jakarta Hasbiallah Ilyas menilai Anies bekerja kurang baik dibanding gubernur sebelumnya, Basuki Tjahaja Purnama (BTP) alias Ahok. "Intinya gubernur nggak becus, nggak ada hujan kok banjir. Jauh sama gubernur sebelumnya ini, zaman Ahok," kata Hasbiallah kepada wartawan, Jumat (26/4/2019).

Hasbiallah menyoroti dua hal terkait penanganan banjir di Jakarta. Yang pertama adalah ketiadaan kepala di Dinas Sumber Daya Air. "Bagaimana mau jalan pemerintah, wong tata air Plt, penyerapan nggak maksimal. Harusnya ditetapkan. Plt itu kan mungkin serius kerjanya," jelasnya.

Dia juga menyoroti koordinasi dengan pemerintah pusat. Terutama dalam melakukan normalisasi Sungai Ciliwung. "Kedua adalah problem administrasi. Misalnya normalisasi kali diganti sama gubernur naturalisasi. Ini kan menghambat kinerja. Se-Indonesia juga nggak tahu naturalisasi. Yang ada normalisasi, diganti kan menghambat lagi," paparnya.

Sebelumnya, Anies mengakui daerah yang terendam air saat ini adalah daerah langganan banjir. Anies mengatakan genangan tersebut diakibatkan kiriman air dari hulu Sungai Ciliwung. "Di tempat itu tidak ada hujan sebetulnya mereka itu, kita ini menerima air dari hulu ketika di sana hujannya keras," kata Anies di Gedung Dinas Teknis, Jalan Abdul Muis, Jakarta Pusat.

Anies Sebut Pembangunan Bendungan Solusi Banjir, Targetkan Rampung Tahun Ini. Terkait dengan banjir kiriman ini, Anies menuturkan pihaknya sudah bersiaga sejak semalam. Semua petugas terkait sudah bersiaga untuk mengantisipasi siaga I Bendungan Katulampa. "Tadi malam sekitar pukul 09.00 di Katulampa sudah siaga I. Seluruh petugas kita sejak malam sudah bekerja di lapangan untuk mengantisipasi datangnya air kiriman dari hulu," kata Anies.

Anies mengatakan solusi banjir tersebut adalah pembangunan bendungan. Dia mengatakan bendungan selesai pada tahun ini. Seperti diketahui, Kementerian PUPR tengah mengerjakan pembangunan bendungan itu. "Kita membangun dry dam di hulu ada dua bendungan yang sekarang dibangun. Insyaallah bendungan selesai tahun ini," jelasnya.

Sedangkan Wali Kota Bogor Bima Arya memuji penanganan banjir di Jakarta yang dianggap lebih terkendali. Dia menyebut, biasanya, jika Bendung Katulampa siaga I, Jakarta bakal direndam banjir parah.

’Saya melihat sekarang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya ketika siaga satu sudah pasti banjirnya parah, tapi kemarin itu siaga satu 250 cm sempat itu, biasanya Jakarta luar biasa banjirnya, tapi ini rasanya lebih terkendali pada tahun ini," ucap Bima di gedung KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan hari ini.

Sebagai kepala daerah yang bertetangga dengan DKI, Bima mengatakan, saat siaga I, air dari Bendungan Katulampa bakal tiba di Jakarta dalam waktu delapan jam. Bima juga menyebut ada beberapa lokasi di Kota Bogor yang terendam air. sumber : Ingat Banjir Dan Ingatan Publik Ke Ahok.

Hal yang membelenggu Anies saat ini, karena dirinya terlanjur berjanji kepada warga, manakala masa kampanyenya dulu, bahwa dia tak akan memaksa warga pindah dari bantaran sungai. Sementara faktanya, mereka yang menempati bantaran sungai, adalah mereka yang melangkahi aturan peruntukan lahan.

Seandainya Anies menahan malu sedikit saja, artinya mengikuti kebijakan pejabat terdahulu, maka niscaya langkahnya akan sedikit mengurangi penderitaan warganya. Dengan cara itu, kesalahan persepsi tentang pengelolaan air akan berkurang, selain akan mendapat apresiasi dari warganya.

Upaya Ahok untuk merelokasi warga di sekitar bantaran sungai, jika secara konsisten dilakukan oleh penerusnya, maka lambat laun akan membentuk pemahaman yang sama di kalangan bawah, mereka harus mengikuti kebijakan yang ditetapkan Pemda, agar selain mengikuti sunah, bahwa pemimpin ditunjuk untuk ditaati, juga membawa berkah kepada kehidupan mereka.

Provokasi Aa Gym saat banjir di masa Ahok sebagai Gubernur :


Jangan justru mengikuti pola pikir sebagian ulama, yang alih-alih mencerahkan umat, justru memprovokasi mereka dengan menilai pemimpinnya tidak semestinya.

No comments

Powered by Blogger.