Diancam Romo Syafi'i Akan Dicopot, Kapolda Sumut Santai: Qodrat dan Iradat Manusia Ditentukan Allah


Berita Terkini - Ratusan orang yang tergabung dalam Romo Center yang dikelola oleh anggota DPR RI, Muhammad Syafi'i berunjuk rasa di kantor Wali Kota Medan, Jumat (1/3/2019).

Unjuk rasa yang juga diikuti pria yang akrab dipanggil Romo Syafi'i tersebut disebut aksi untuk menjaga, mengawal pemilu damai yang akan berlangsung 17 April 2019 yang akan datang.

"Saudara-saudara, mari kita kawal pemilu April mendatang. Saudara-saudara mari kita lawan ke dzoliman ini. Takbir," ucap pria dari atas kendaraan yang dipergunakan pendemo.

Tampak para pendemo turut membawa bendera tauhid, bendera Indonesia dan spanduk yang berisi tuntutan massa, serta berteriak-teriak 'Allahu Akbar' disertai ucapan melawan kedzoliman

"Lawan kedzoliman, lawan, lawan," ucap massa.

Para pengunjukrasa pun meminta masyarakat untuk tetap tenang dan mematuhi peraturan perundang-undangan.

Kemudian Jangan mau diprovokasi oleh kelompok-kelompok tertentu dan pejabat-pejabat tertentu sehingga bisa menimbulkan kisruh dalam pemilu 2019.

"Jangan terpengaruh dengan bujuk rayu dan iming-iming dari tim-tim khusus yang membawa pesan atau paket-paket tertentu atau hadiah-hadiah," teriak koordinator pengunjukrasa.

Menurut mereka kegiatan ini  seperti itu merendahkan nilai kemanusiaan dan menghancurkan kualitas demokrasi kita. "Sikap kita adalah, menuntut untuk pemko agar tidak memihak," teriak para pengunjukrasa.

Saat berunjuk rasa Anggota Komisi III DPR RI, Muhammad Syafi'i turut berorasi.

Dalam orasinya dia mengingatkan Kapolda Sumut, Irjen Pol Agus Andrianto untuk menjalankan tugas sesuai amanat konstitusi dan UU, yaitu UU no 34/2004 tentang Tentara Negara Republik Indonesia (TNI).

Di mana, pada pasal 39 ayat 2 disebutkan bahwa prajurit dilarang terlibat di dalam kegiatan politik praktis.

"Terima kasih TNI karena berpegang kepada UU dalam menjalankan tugas," kata Romo.

Lalu, Romo menyebut UU No 2/2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Di mana, pasal 28 ayat 1 menyebutkan bahwa polri bersikap netral dalam kegiatan politik dan tidak melibatkan diri di dalam kegiatan politik praktis.

"Apakah mereka (polisi) sudah melaksanakan ketentuan itu," teriaknya.

"Belum," jawab para peserta aksi damai.

Ia mengungkapkan hal tersebut adalah luapan hati rakyat. Maka dari itu, sebagai wakil rakyat di legislatif ia berjanji akan menjalankan tugasnya dengan baik.

"Saya sebagai anggota DPR RI Komisi III, atas kesaksian rakyat ini, mengingatkan Kapolda Sumut Irjen Pol Agus Andrianto agar kelola lembaga kepolisian agar netral menjalankan tugas sesuai UU," tegasnya

Menurut Romo masyarakat membutuhkan polisi, karena polisi dibentuk dengan UU untuk menjaga ketertiban dan keamanan masyarakat serta menegakkan hukum.

"Kita butuh polisi, kasihan polisi yang menjalankan UU, karena kepolisian dipimpin oleh orang yang tidak netral. Saya akan rekomendasikan komisi III, agar memberhentikan Kapolda Sumut," katanya.

Atas ancaman Muhammad Syafi'i, Kapolda Sumatera Utara, Irjen Pol Agus Andrianto menanggapinya dengan santai.

Jenderal bintang dua tersebut mengaku semua yang dijalankannya sejak menjabat Kapolda Sumatera Utara, semata menjalankan amanah yang dipercayakan kepadanya.

Ia mengutarakan bahwa setiap bekerja tetap mengacu pada UU No 2/202 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia demi kepentingan masyarakat Sumatera Utara.

Pria yang sudah lama berkarir di Sumatera Utara ini mengutarakan bahwa dia selama ini bekerja demi kerukunan masyarakat Sumatera Utara yang sangat dicintainya.

"Kepentingan satu kelompok, apalagi perorangan, tidak boleh mengalahkan kepentingan masyarakat banyak dan negara," ujarnya.

Untuk itu dia sebagai Kapolda Sumatera Utara bertanggungjawab untuk menetralisir paham kebencian dan arogansi, serta sikap merasa paling benar yang sudah meracuni sebagian masyarakat Sumut karena kepentingan tertentu.

Negara menurut Agus harus hadir dan tidak boleh abai karena ini ancaman keutuhan berbangsa dan bernegara, bahkan ancaman bagi agama.

Selama bertugas kata Agus Andrianto dimasa Pemilu serentak Pilpres dan Pilleg di tahun 2019 ini, polisi selalu netral dan tidak berpihak pada paslon manapun, partai apapun dan caleg manapun.

"Jika ada yang merasa terusik karena upaya untuk menjaga keutuhan berbangsa dan bernegara seperti yang diamanahkan Undang-undang, tidak masalah bagi saya" ujarnya.

Kata Agus, sejak bertugas di Polris dia selalu berserah pada ketentuan Allah SWT.

"Dihadapan ALLAH SWT, apalah manusia seperti saya ini. Hanya debu dimuka bumi. Qodrat dan Iradhat tiap kita sudah ditentukan. Tinggal saya jalani saja," ujar Agus.

Orang nomor satu di Polda Sumut ini pun menegaskan bahwa keamanan dan ketertiban jauh lebih penting daripada retorika politik yang memprovokasi.

"Jangan lupa belajar menjadi manusia dulu sebelum belajar Agama, supaya kita tidak lupa bahwa kita ini manusia bukan Allah, sehingga berhak menghakimi siapa saja sesuai selera dan kepentingan kita," jelasnya.

No comments

Powered by Blogger.