Video 'Jika Jokowi terpilih, tak ada azan': Polisi amankan tiga perempuan asal Karawang


Berita Terkini - Polda Jawa Barat mengamankan tiga orang perempuan yang terlihat dalam isi video yang diduga bermuatan konten bohong dan kampanye hitam.

Dalam video tersebut, mereka terlihat sedang berbicara dengan seseorang di depan rumahnya dan diduga isinya ajakan agar tidak memilih capres Joko Widodo dalam pilpres nanti.

Dengan menggunakan bahasa Sunda, mereka terdengar mengucapkan, antara lain, "2019 kalau dua periode tidak akan ada azan, suara anak ngaji, gak akan ada yang pakai kerudung, perempuan dengan perempuan boleh kawin, laki-laki dengan laki-laki boleh kawin."

Menurut polisi, ketiga ibu rumah tangga itu juga mengaku meminta perlindungan polisi lantaran videonya berpotensi menimbulkan konflik setelah tersebar luas di masyarat.

Ketiga "emak-emak" itu adalah warga Kabupaten Karawang, yakni S dan IP, warga Kecamatan Kotabaru Desa Wancimekar, serta CW, warga Teluk Jambe Desa Sukaharja Kecamatan Telukjambe Timur.

Namun menurut polisi, status ketiga orang itu masih dalam "proses pemeriksaan" di Direktorat Kriminal Khusus (Dirkrimsus) Polda Jawa Barat.

"Statusnya masih dalam pemeriksaan," kata Kabidhumas Polda Jabar, Kombes Polisi Trunoyudho Wisnu Andiko, di Mapolda Jabar, Senin (25/02), seperti dilaporkan wartawan di Bandung, Julia Alazka untuk BBC News Indonesia.

Diperiksa dengan UU ITE
Polda Jabar, kata Trunoyudho, memeriksa ketiganya dalam kaitan tindak pidana Undang-undang ITE pasal 28 ayat 2 dan UU nomor 1 tahun 1946 tentang peraturan hukum pidana.

Dalam UU ITE, jika terbukti, mereka dapat dikenai sangkaan dengan sengaja menyebarkan informasi untuk menimbulkan rasa kebencian dan permusuhan berdasarkan isu SARA.

Mereka juga dapat dijerat UU nomor 1 tahun 1946, apabila terbukti menyiarkan berita bohong yang dapat menimbulkan keonaran di masyarakat.

"Namun demikian penyidik masih melakukan serangkaian proses penyelidikan di Dirkrimsus," jelas Trunoyudho.

Selain itu, menurut Trunoyudho, pihaknya dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) sedang mendalami isi video tersebut dengan berdasarkan Undang-undang Tindak Pidana Pemilu.

"Dalam proses penyelidikan nanti, kita menunggu hasil dari Bawaslu dan Tim Gakkumdu, mengenai adanya tindak pidana lain yang terkait dengan pelanggaran yang dilakukan oleh ketiga wanita tersebut," ujarnya.

Sementara mengenai unsur ujaran kebencian atau muatan penghinaan pada presiden, Trunoyudho mengatakan, pihaknya akan melibatkan sejumlah ahli.

"Kita ketahui bersama dalam hal konten berita bohongnya akan kita lakukan proses pemeriksaan dari ahli bahasa, ahli pidana dan digital forensik untuk mentranskrip keaslian daripada video tersebut," katanya.

Video "Jika Jokowi Terpilih, Tak Ada Lagi Azan"
Di video berdurasi 59 detik dan telah tersebar di media sosial ini, terlihat dua orang perempuan yang sedang berbicara dengan seorang pria di depan rumahnya. Seorang perempuan lainnya diduga yang merekam video.

Dalam percakapan mereka terdengar kata-kata berbahasa Sunda yang diucapkan ketiga ibu-ibu itu, antara lain "2019 kalau dua periode tidak akan ada adzan, suara anak ngaji, gak akan ada yang pakai kerudung, perempuan dengan perempuan boleh kawin, laki-laki dengan laki-laki boleh kawin."

Trunoyudho menyebutkan polisi bergerak cepat mengamankan ketiganya lantaran video itu berpotensi menimbulkan konflik dan keresahan di masyarakat.

"Kita tidak ingin adanya kerusakan ataupun tatanan dalam demokrasi dirusak dengan hal-hal yang berita bohong. dan kedua juga kita akan memberikan efek deterans kepada yang lainnya juga," ujar Trunoyudho.

Apa motif tiga perempuan tersebut?
Sejauh ini, polisi belum bisa memastikan motif, peran, dan posisi ketiga ibu-ibu itu, apakah mereka diduga bertugas sebagai relawan Capres 02.

"Nanti perannya masing-masing akan disampaikan saat proses pemeriksaan hari ini selesai," katanya.

Trunoyudho menyebutkan, ketiganya meminta polisi untuk diamankan karena kuatir atas keselamatan diri mereka.

"Kita lakukan pengamanan dan yang bersangkutan pun meminta perlindungan kepada Polri, minta perlindungan karena potensi konfliknya sangat meresahkan," papar Trunoyudho.

No comments

Powered by Blogger.