Tak Harus Dibunuh, Kubu Paslon #02 Sudah Melakukan Aksi Bunuh Diri ! Ini penjelasannya ….


Berita Terkini - Menghalalkan segala cara untuk memenangkan Pilkada Jakarta adalah contoh yang sudah terjadi di Indonesia, bagaimana semua partai pengusung Anies Baswedan – Sandiaga Uno menggunakan dalil-dalil agama Islam dan berpelukan dengan manusia-manusia 212 pendukung khilafah untuk merontokkan sang petahana.

Tahun 2017 lewat. Kemenangan di Pilkada Jakarta sudah didapat, sekarang orang-orang yang sama, kembali mempersiapkan diri bertarung memperebutkan kursi nomor satu di Indonesia, Pilpres 2019.

Segala macam manuver cerita, kisah, kritikan, hujatan sampai fitnah ditebar ke seantero Indonesia.

Semua isu yang pernah diangkat oleh Kubu Prabowo di Pilpres 2014, kembali dihidupkan. Tentang hutang Negara yang membesar, tentang gagalnya pemerintah meningkatkan perekonomian rakyat, tentang pro asing-aseng, tentang Jokowi anak PKI, sampai scenario-scenario buatan pun dikerahkan.

Semuanya mental, tidak mempan, dan gagal total!!

Ratna Sarumpaet, Jonru, Buni Yani, berakhir di penjara dengan sangat mengenaskan. Sekarang ditambah dengan Ahmad Dhani yang menyusul dipenjara. Belum lagi nama-nama yang sedang menunggu giliran untuk diproses hukum pelaporannya.

Saya melihat, semua dinamika politik yang dilancarkan oleh kubu Paslon #02 ibarat ujian untuk mengetes kecerdasan bangsa. Dan selama itu pula Jokowi hanya diam.

Memasuki tahapan pendaftaran capres dan cawapres, gejolak mulai mengoyak kubu Paslon #02. Kubu nasionalis dan kubu agamis seakan berlomba untuk menarik perhatian sang Ketua Umum Partai Gerindra yang sudah ditetapkan oleh rapat Ijtima Ulama sebagai capres pilihan Ulama.

Untuk sementara, dengan menggunakan tameng ulama 212, elektabilitas Prabowo Subianto sedikit terangkat. Namun kembali stagnan ketika Prabowo lebih memilih Sandiaga Uno ketibang 2 nama cawapres pilihan ulama.

Merekapun berdamai dan setuju untuk mendukung keputusan Prabowo memilih sandiaga Uno sebagai cawapresnya, karena memang ini faktanya bahwa maju diajang Pilpres sangat membutuhkan biaya uang yang besar. Dan untuk itu Sandiaga Uno punya dana yang dibutuhkan. Sementara do’a para ulama 212 dikesampingkan.

Namun, mereka tak kehabisan akal. Para Ulama 212 dan partai agama Islam segera meng-inagurasi Sandiaga Uno sebagai Ulama pula. Strategi memperalat agama pun diteruskan.

Malangnya bagi mereka, rakyat Indonesia di Aceh dan Sumatera Barat sangat pintar. Mereka mengundang semua capres dan cawapres untuk diuji membaca al Quran. Jokowi menerima, tapi Prabowo menolaknya.

Sesaat rakyat mencela. Tapi celaan rakyat tak membuat kubu Paslon #02 lumpuh dan kehilangan suara.

Jokowi merasa perlu turun ke jalan. Balasan-balasan atas serang-serang yang selama ini didiamkan mulai direspon dan dikomentari. Media dibuat geger oleh beberapa pernyataan Jokowi. Namun kubu Paslon #02 sudah terlatih untuk menyikapi serangan kubu Jokowi dengan cara mengeles dan playing victim.

Kekhawatiran mulai menyeruak relung hati pendukung Jokowi. Sementara isu ekonomi dan keuangan terus digaungkan oleh Kubu Palson #02.

Sampai ketika Jokowi menjambangi pesantren KH Maimoen Zubair dan meminta do’a. Do’a pun dilayangkan…. Namun ada insiden kecil dimana sang Kyai keseleo lidah menyebutkan nama Prabowo, padahal yang dimaksud adalah Jokowi.

Kubu Paslon #02 merasa mendapat angin segar untuk mulai menyerang. Namun mereka kebablasan.

Hampir 7 tahun, kubu Prabowo membanggakan sebagai kubu yang menjunjung ulama. Sampai-sampai mengaku sebagai Partai Allah. Sayangnya yang mereka junjung adalah ulama 212. Dan bukan semua ulama di Indonesia.

Puisi brutal pun diluncurkan untuk menghujat kubu Paslon #01, tapi yang terkena ternyata sang Ulama kawakan.

Dari puisi ini, umat Islam mulai tersadar bahwa tidak ada perbedaan antar ulama. Ulama 212 atau ulama Nusantara, mereka tetap ulama yang harus dihormati dan dihargai. Apalagi Indonesia adalah Negara dengan penduduk beragama Islam terbesar di dunia. Tempat dan kedudukan para Ulama adalah istimewa.

Dan puisi seperti yang ditulis oleh Fadli Zon, mampu menggerakkan seluruh umat Islam di Indonesia dari semua aliran untuk menyerukan BAHWA FADLI ZON SUDAH MENISTAKAN ULAMA MEREKA, ULAMA KAMI, ULAMA KITA, ULAMA SENIOR INDONESIA !!

Mungkin hari ini para santri di Kudus dengan tertib melakukan aksi unjuk rasa karena tidak terima ulamanya dinistakan. Unjuk rasa membela Ulama. Besok lusa, santri laindi Indonesia bagian lain akan melakukan hal yang sama.

Dan puisi ini juga menjadi alat bukti, tentang ke-Islam-an seluruh laskar dan PA 212, termasuk para ulamanya. Apakah mereka itu benar-benar ulama atau ulama abal-abal yang hanya diam saja melihat ulama se-senior KH Maimoen Zubair dinistakan???

Yang pasti, puisi Fadli Zon kali ini menjadi alat bunuh diri bagi kubu Paslon #02.

Ketika mereka dengan congkak berteriak menghasut rakyat untuk tidak mendukung partai atau paslon yang mendukung seorang penista agama, sekarang, kita pun bisa berteriak menghasut rakyat untuk tidak mendukung paslon yang melindungi Penista Ulama !!

Dalam 70 hari ke depan, saya pikir, Prabowo tidak akan sanggup mempertahankan elektabilitasnya sebagai capres yang mendukung agama Islam. Catatan Prabowo mencederai Agama Islam sudah terlalu panjang. Ditambah sekarang dia melindungi seorang penista ulama !!

Puisi brutal ini akan membungkam Fadli Zon untuk waktu yang cukup lama. Apalagi kebrutalan ini bukan kebrutalan yang pertama yang Fadli Zon lakukan. Penista Ulama tak mendapat tempat di Indonesia. Suara Prabowo akan tergerus habis-habisan karena sebuah puisi yang begitu brutal.

Seluruh Umat Islam Indonesia akan memberikan suara mereka pada Paslon #01 dan bisa dipastikan Jokowi akan menang di Pilpres 2019!!

Indonesia Berjaya !!!

No comments

Powered by Blogger.