Prabowo Serang SBY dan Mertua Sebagai Elit Tak Berguna, Gejala Pikun atau Gejala Waras?


Berita Terkini - Prabowo mulai menunjukkan gejala pikun? Sebab tidak wajar rasanya bila Prabowo merasa butuh dukungan dari SBY, Demokrat, Berkarya, PKS dan PAN, namun terus saja menyerang mereka semuanya.

Sebelumnya, Prabowo mempermalukan Presiden PKS dan Amien Rais di hadapan begitu banyak alumni perguruan tinggi yang ‘katanya’ sedang deklarasi mendukung dirinya, hanya karena mereka pernah mengkritik ringan atas pribadinya.

Kali ini lebih parah lagi.

Tidak tanggung-tanggung, secara beruntun Prabowo mengeluarkan pernyataan yang bersifat menyerang terhadap SBY sebagai rekan koalisinya, Soeharto sebagai mantan mertuanya, bahkan juga ayah kandungnya sendiri Prof. Soemitro Djojohadikusumo yang merupakan Begawan Ekonomi sejak era Orde Baru dulu!

Dilansir dari detikNews, capres Prabowo Subianto bicara soal arah pembangunan ekonomi Indonesia sejak era Orde Baru (Orba). Prabowo melihat arah pembangunan ekonomi Tanah Air sejak zaman Orba menuju keliru.

"Jadi Saudara sekalian, dari awal, dari sekian belas tahun, dari saya masih di dalam Orde Baru, saya sudah lihat arah pembangunan ekonomi Indonesia arahnya menuju keliru," kata Prabowo saat berorasi dalam HUT ke-20 Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) di hall Sports Mall, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Rabu (6/2/2019).

Baca Juga : Pegawai Negeri Lebih Suka Prabowo-Sandi, Karena Zaman Jokowi Susah Korupsi?

Prabowo juga mengkritik para elite pemerintah terdahulu. Capres nomor urut 02 itu menilai para elite itu gagal mengelola bangsa.

"Saya lihat waktu itu adalah bahwa elite ini, elite yang tak ada gunanya. Elite gagal beri arah ke bangsa, gagal kelola bangsa," jelasnya.

Karena penilaian itu, Prabowo mengatakan banyak pihak yang tidak menyukainya. Namun eks Danjen Kopassus itu cuek saja dan menyatakan lebih mementingkan rakyat.

"Ini keyakinan saya dan saya sampaikan di mana-mana, banyak yang nggak suka sama saya, terserah, yang penting saya bicara pada rakyat Indonesia," ucap Prabowo.

Penilaian Prabowo tersebut langsung memperoleh umpa balik yang amat makjleb dari Ketua DPP Hanura Inas Nasrullah, yang langsung menilai bahwa Prabowo merupakan sosok pribadi yang amat pongah dan rakus terhadap kekuasaan.

"Prabowo menganggap semua orang di Indonesia ini dianggap tidak ada gunanya dan siapapun pasti gagal mengelola bangsa ini, kecuali hanya Prabowo Subianto saja yang mampu mengelola! Inilah kepongahan yang tiada taranya dari seorang yang berambisi meraih kekuasaan dengan sangat rakusnya! Prabowo lupa bahwa justru dirinya-lah elit yang tidak ada gunanya kemudian terpental institusi yang dia komandoi!" kata Inas kepada wartawan, Rabu (6/2/2019).

Prabowo sebelumnya mengaku sudah menerawang ekonomi Indonesia sejak zaman Orde Baru. Menurut dia, arah ekonomi Indonesia saat itu sudah keliru.

Menanggapi hal tersebut, Inas menyinggung mantan mertua Prabowo yang juga Presiden ke-2 RI Soeharto dan ayah Prabowo, Soemitro Djojohadikusumo. Inas juga menyeret nama Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengenai pernyataan Prabowo tersebut.

"Prabowo mengatakan bahwa sejak zaman orde baru, arah pembangunan ekonomi Indonesia menuju arah yang keliru, di mana kekeliruan-nya disebabkan oleh elite-elite Indonesia yang tak ada gunanya dan gagal mengelola bangsa. Lalu siapa saja elite-elite sejak zaman orde baru yang dimaksud? Yang pasti adalah mantan mertua-nya Prabowo sendiri, yakni Soeharto, lalu Bapak kandung-nya Prabowo sendiri, yakni Soemitro Djojohadikusumo," ujar anggota Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf Amin itu.

"Kalau mantan mertua dan orang tua kandung sendiri saja dituding tak ada gunanya karena gagal mengelola bangsa, maka menurut Prabowo, SBY juga termasuk elite yang tidak ada gunanya karena gagal juga mengelola bangsa!" sambung Inas.

Sebelumnya, Prabowo menyebut banyak orang yang tidak menyukainya karena dia kerap menyampaikan elite RI gagal dalam mengelola bangsa. Namun Prabowo cuek saja dan menyatakan lebih mementingkan rakyat.

"Elite ini gagal memberi arah kepada bangsa, gagal mengelola bangsa ini. Ini keyakinan saya dan saya sampaikan di mana-mana, banyak yang nggak suka sama saya, terserah, yang penting saya bicara pada rakyat Indonesia," kata Prabowo saat berorasi pada HUT ke-20 FSPMI (Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia) di hall Sports Mall, Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Bila memang benar semua pernyataan Prabowo tersebut, maka yang menjadi pertanyaan kemudian adalah, mengapa Prabowo tak memberi tahu Soeharto, padahal sebagai menantu kesayangan, Prabowo tentu saja memiliki akses luas dan istimewa?

Apakah karena Prabowo begitu pengecut hingga bahkan tak berani mengkoreksi hal-hal yang dianggap keliru olehnya padahal dia memiliki kesempatan serta ‘jalur khusus’ untuk melakukan hal itu? Atau justru memang itulah kebecusan satu-satunya yang dimiliki oleh Prabowo, yaitu turut ‘berpesta’ buah kekeliruan yang ada, dan setelah tak lagi bisa mengambil manfaat barulah menistanya sebagai sebuah kekeliruan yang merugikan rakyat?

Prabowo diduga mulai mengalami kepikunan hingga menyerang membabi buta siapapun juga tanpa pandang bulu. Termasuk SBY sebagai rekan koalisi, mantan mertua bahkan juga ayah kandungnya sendiri yang amat dihormati bangsa ini.

Atau jika bukan, berarti itulah watak asli Prabowo, yaitu sombong merasa dirinya sebagai yang paling hebat serta gemar menghina orang lain siapapun juga yang dianggap tak ada satupun yang berguna kecuali dirinya sendiri.

Seperti itukah sosok asli Prabowo yang didaulat sebagai calon presiden ideal? Yang katanya pilihan ulama pula?

Belum jadi apa-apa saja sudah seperti itu, alangkah memuakannya!

#JokowiLagi

No comments

Powered by Blogger.