Misteri BTP Akhirnya Terungkap


Berita Terkini - Ahok dipenjara lebih kurang 2 tahun dan sekarang sudah bebas Januari kemarin. Keluarnya Ahok yang kini ingin dipanggil BTP membawa teka teki alias misteri dalam dirinya.

BTP memang terasa istimewa. Walaupun dipenjara adalah sesuatu yang negatif karena image masyarakat orang yang dipenjara adalah orang yang melakukan kesalahan. Misalnya pemerkosaan, pembunuhan atau pelanggaran lain. Kini banyak pejabat yang dipenjara karena perkara korupsi.

BTP dipenjara karena kasus penistaan agama. Perkataannya ketika menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta dianggap menodai agama, yaitu tentang surat al Maidah. Selain itu demo berjilid-jilid seolah memaksa bahwa BTP harus dipenjara. Akhirnya BTP divonis penjara selama kurang lebih 2 tahun.

Walaupun dipenjara masih banyak orang yang menganggap BTP adalah orang yang istimewa. Sewaktu menjabat dalam pemerintahan maupun ketika menjadi anggota DPR BTP dikenal orang yang jujur dan sangat anti korupsi. Hal ini dianggap istimewa karena orang seperti ini sudah sangat jarang ada.

Ketika di penjara BTP tetap dikenal dan diingat oleh orang luar penjara. Apalagi beberapa bulan menjelang kebebasanya lahir sebuah film tentang kehidupan Ahok dengan judul A Man Called Ahok. Film ini dinilai sukses di pasaran dan ditonton oleh lebih dari 1 juta orang.

Padahal waktu penayangannya berbarengan dengan film Hanum dan Rangga yang merupakan film yang diadaptasi dari novel karangan Hanum putri dari politisi senior Amien Rais. Tapi film A Man Called Ahok mampu bertengger menjadi salah satu film lokal yang ditonton lebih dari 1 juta orang mengalahkan film Hanum Rais.

Baca Juga : Rekam Jejak Hitam Ferdinand Hutahaean: Politikus Doyan Gonta-Ganti Pasangan

Lalu apa yang akan dilakukan BTP setelah bebas, khususnya yang berkaitan dengan karir politiknya? Sebelumnya mantan partnernya ketika memerintah DKI Jakarta yaitu Pak Djarot pernah menyampaikan bahwa BTP akan menjadi kader PDIP. Dengan kata lain BTP akan menjadi anak buah Megawati dan sesama kader PDIP dengan Presiden Joko Widodo.

Akhirnya misteri partai mana yang akan menjadi labuhan dan sarana karir politik BTP terjawab sudah. Mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (BTP) alias Ahok mendatangi kantor DPD PDI Perjuangan Bali. Ahok pun resmi jadi kader partai berlambang banteng moncong putih itu.

Ahok sempat berbincang di ruangan sekretariat dan perpustakaan DPD PDIP Bali. Dalam ruangan tersebut, diketahui ada Wagub Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati, Dewan Pertimbangan PDIP Bali I Nyoman Adi Wiryatama, dan Sekretaris PDIP Bali I Gusti Ngurah Jaya Negara.

Tak berapa lama, rombongan tersebut keluar. Saat keluar dari ruangan, terlihat Ahok memakai jaket merah PDIP. "Beliau sudah anggota PDI Perjuangan, sudah resmi," ujar Nyoman Adi Wiryatama. (Sumber : https://news.detik.com/berita/d-4419683/ahok-resmi-jadi-kader-pdip)

Dengan masuknya BTP ke PDIP otomatis BTP mendukung pasangan Capres dan Cawapres Nomor urut 01 yaitu pasangan Jokowi dan Maruf Amin. Lalu apakah ini sebagai sebuah keuntungan atau kerugian bagi Jokowi-Maruf Amin?

Sebenarnya ada positif dan negatifnya BTP menjadi pendukung paslon Capres dan Cawapres nomor urut 01. Para fans BTP yang disebut Ahokers dan fans BTP lain yang tidak menunjukkan diri dan tersebar di seluruh Indonesia seolah diberikan petunjuk jalan untuk memilih paslon Capres dan Cawapres nanti April 2019.

Fans BTP merupakan orang-orang yang mendambakan orang yang jujur, antikorupsi untuk menuntuk masyarakat membangun negeri ini. Salah satu orangnya adalah BTP.

Korupsi seolah menjadi budaya dan sangat sulit diberantas. Orang yang pernah korupsi sangat sulit untuk tidak korupsi lagi. Apalagi sudah merasakan bagaimana enaknya banyak uang hasil korupsi. Orang yang sudah pernah dipenjara karena korupsi sulit untuk kapok, bahkan pengalaman dijadikan modal untuk korupsi lagi.

Sebaliknya orang yang sudah punya idealisme antikorupsi, orang yang jujur dari awal akan lebih mudah diharapkan sebagai penggerak gerakan antikorupsi. Setidaknya bisa menjalankan berbagai solusi untuk membangun bangsa tanpa terlibat korupsi.

Selain itu ada efek ekor jas. Efek ekor jas dapat dimaknai sebagai pengaruh figur dalam meningkatkan suara partai di pemilu. Figur tersebut bisa berasal dari capres ataupun cawapres yang diusung. Di Indonesia, efek ekor jas pernah mengalami kesuksesan besar. Misalnya, terjadi pada 2004 dan 2009 dengan figur Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Partai Demokrat yang baru berdiri 2001 tiba-tiba memperoleh suara signifikan pada Pemilu 2004. Bahkan pada 2009 menjadi pemenang pemilu. Rupanya, ketokohan SBY turut mempengaruhi tingkat perolehan Partai Demokrat di dua pemilu tersebut. Publik memilih Demokrat lantaran partai tersebut identik dengan figur SBY yang saat itu merupakan presiden dengan tingkat elektabilitas dan kepuasan publik yang tinggi.

BTP diperkirakan figur yang mampu membawa suara yang cukup banyak untuk mendongrak perolehan suara pasangan Capres dan Cawapres nomor urut 01.

No comments

Powered by Blogger.