Jokowi: Saya Kurus tapi Tak Takut untuk Kepentingan Bangsa, Lihat Sendiri Bukti-Bukti Nyatanya!


Berita Terkini - Merinding bila melihat dan mendengar Presiden Jokowi sudah mulai menunjukan nasionalisme dirinya, yang tidak sekedar untuk Negara Indonesia, melainkan juga untuk kepentingan seluruh rakyatnya!

Dilansir dari detik, Presiden yang juga capres petahana Joko Widodo (Jokowi) berbicara tentang perawakannya yang kurus. Meski kurus, Jokowi tidak takut membela kepentingan bangsa.

"Orang banyak lihat, saya ini kurus, iya saya ini kurus. Tapi perlu Saudara-saudara ketahui, saya tidak pernah takut apa pun untuk... saya tidak pernah takut apa pun untuk kepentingan nasional kita, untuk kepentingan bangsa kita, untuk kepentingan rakyat," kata Jokowi saat silaturahmi dengan Paguyuban Pengusaha Jawa Tengah di MG Setos, Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (2/2/2019).

Jokowi mencontohkan komitmen untuk memberantas penangkapan ikan secara ilegal. Jokowi memerintahkan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menenggelamkan kapal yang illegal fishing.

"Waktu saya perintahkan Menteri Susi menenggelamkan kapal illegal fishing. Lalu lalang, kapal-kapal asing 7.000 hingga 13 ribu kapal, lalu lalang mengambil sumber daya alam laut kita, banyak yang menyampaikan kepada saya. Sulit Pak, hati-hati. Yang backup ini-ini. Saya perintahkan kepada Bu Susi, ini perintah, perintah saya. Kalau memang perlu ditenggelamkan, ditenggelamkan. Kalau perlu dibom, dibom," papar Jokowi.

Baca Juga : Makin Panas! Prabowo Digembosi Rizieq Shihab, Hashim Sebut FPI-HTI ‘Ngemis’ Ke Prabowo!

"Tanya pada Susi. Tanya pada Susi, tanya pada Susi. Tanya pada Menteri Susi. mengulangi perintah saya, sampai tiga kali," imbuh Jokowi.

Jokowi mengatakan perintah menenggelamkan kapal perikanan yang melakukan illegal fishing sudah diperhitungkan. Jokowi juga memuji Susi, yang berani mengeksekusi arahannya.

"Susi saya sampaikan, saya kalau perintah, sudah, saya ikut. Sudah saya kalkulasi. Kalau saya perintah, sudah ada hitung-hitungannya. Sudah, kerjakan saja, kerjakan saja. Susinya juga seperti itu, berani juga," ucapnya.

Hal tersebut kembali mengingatkan rakyat kepada insiden yang terjadi di Kepulauan Natuna, yang membuat Jokowi berang hingga langsung memerintahkan untuk mengadakan rapat di atas kapal perang.

"Saya sampaikan bahwa Natuna adalah teritorial Indonesia di atas kapal perang, waktu itu. Karena penduduk di Kabupaten Natuna itu 169 ribu jiwa, itu adalah penduduk Indonesia. Masa ada yang mau mengklaim-mengklaim? Kalau ada yang mau ngajak berantem, ya kita ramai-ramai. Iya, jelas itu wilayah kita," ujar Jokowi.

"Penduduk kita 169 ribu. Jelas sekali. Kalau yang jelas-jelas seperti itu, ada yang macam-macam...," imbuhnya tanpa melanjutkan pembicaraan soal Natuna.

Protes China atas tertembaknya kapal ikan Han Tan Cou oleh TNI Angkatan Laut pekan lalu, dijawab Jokowi dengan terbang langsung ke Natuna hari ini, Kamis (23/6).

Di perairan yang disebut China sebagai zona perikanan tradisional mereka, Jokowi akan menggelar rapat di atas KRI Imam Bonjol yang melepas tembakan ke Han Tan Cou.

“Sebagai kepala pemerintahan dan kepala negara, Presiden ingin tunjukkan Natuna adalah bagian dari kedaulatan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia),” kata Sekretaris Kabinet Pramono Anung.

Isyarat berang pemerintah Indonesia kepada China kian jelas terlihat dari deretan pejabat tinggi yang dibawa Jokowi ke Natuna. Di antara mereka ialah Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, Menteri ESDM Sudirman Said, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, dan Kapolri Jenderal Badrodin Haiti.

Secara terpisah, Wakil Ketua Komisi I Bidang Pertahanan DPR Tubagus Hasanuddin menyatakan pemerintah mesti menempuh jalur diplomasi damai untuk menyelesaikan persoalan dengan China di Natuna.

“Kita (Indonesia) harus memiliki efek deterrence (gentar), dan efek deterrence yang baik ialah diplomasi sekaligus penguatan pasukan (di Natuna),” kata politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan yang sekaligus juga Wakil Ketua Komisi I Bidang Pertahanan DPR Tubagus Hasanuddin di Jakarta.

Meski Jokowi menunjukkan kemarahan Indonesia kepada China atas insiden berulang di Natuna, pada saat yang sama pemerintah juga menegaskan ingin tetap menjaga hubungan baik dengan China.

“(Penembakan ke kapal China) yang kami lakukan itu sesuai prosedur internasional. Kami tetap ingin bersahabat dengan Tiongkok. Tidak ada keinginan kami melakukan tindakan konfrontatif kepada siapapun,” kata Menko Luhut.

Senada, Menlu Retno berkata, “Komunikasi Indonesia jalan terus dengan Tiongkok. Hubungan kami dengan Tiongkok juga baik. Ini adalah masalah penegakan hukum, bukan politik.”

Soal penegakan hukum itu, ujar Luhut, artinya Indonesia akan menindak tegas kapal asing dari negara manapun yang melakukan aktivitas bisnis di dalam zona ekonomi eksklusif Indonesia, termasuk perairan Natuna.

“Kami tidak mau kedaulatan kami diganggu siapapun,” kata Luhut.

Tak seperti sejawatnya yang berbadan besar berpangkat super namun membuat jumpa pers hanya untuk sekedar teriak-teriak penuh kekhawatiran bahwa dirinya tengah menjadi target pembunuhan atau bahkan mungkin saja sekedar target penjitakan, Jokowi amatlah berbeda.

Jokowi diam bila dirinya yang dihina, namun langsung bangkit kemarahannya bila Negara yang dihina atau bahkan diganggu kedaulatannya, mengingatkan pada periode sebelumnya ada presiden negeri ini yang hingga diledek habis-habisan oleh angkatan laut Malaysiapun tetap saja tak berani membalas.

Benar bahwa Jokowi kurus, tapi tak pernah merasa takut untuk kepentingan bangsa, melainkan justru menjadi sosok yang amat menakutkan, terutama bagi mafia-mafia negara yang sumber logistiknya telah banyak dihancurkan oleh Jokowi.

Dan semua itu cuma contoh kecil dari sekian banyak alasan, tentang mengapa Jokowi begitu dicintai rakyat Indonesia.

#01JokowiLagi

No comments

Powered by Blogger.