Tak Sadar Ahok ‘Menantang’ Anies dan Beranikah Anies Memperbaiki Keadaan Bersama Ahok?


Berita Terkini - Kebebasan Ahok menjadi euforia tersendiri bagi masyarakat, ada yang mengelar syukuran dan sekedar mengucapkan selamat datang kembali BTP melalui akun media sosialnya masing-masing. Ahok atau Basuki Tjahaya Purnama sudah menerima hukuman terkait kasus yang dituduhkan padanya, dan dia juga sudah minta maaf, ke depannya kita berharap tidak ada lagi yang menyebutnya sebagai penista agama.
Saat Ahok melintasi simpang susun semanggi, Ahok tak menyombongkan diri meskipun simpang susun tersebut ada berkat dirinya. Ahok justru memuji eks Kadis Bina Marga DKI.
Seperti yang kita ketahui bersama, simpang susun semanggi dianggap monumental dan patut dibanggakan karena dibangun dengan bentang terpanjang di atas tol kota secara full precast melengkung (hiperbolik).
Pembangunan simpang susun semanggi juga menggunakan teknologi canggih yang baru pertama kali dipakai di Indonesia. Teknologi yang diterapkan adalah teknologi struktur berupa box girder precast. Untuk teknologi pemasangannya menggunakan teknologi pemasangannya menggunakan kombinasi dua metode yakni lifter dan shoring.
Keindahan simpang susun semanggi membuatnya begitu fotogenik, dengan berbagai lampu yang begitu indah di malam hari membuat simpang susun semanggi menjadi terlihat cantik. Dan yang paling penting adalah, pembangunan simpang susun semanggi yang menghabiskan dana sebesar Rp 345,067 miliar ini dibangun tanpa menggunakan dana APBD.
Tulisan ini tidak bermaksud untuk menyudutkan seorang Anies Baswedan, Gubernur yang sudah terpilih secara demokrasi yang harus dihargai, walaupun harus dihargai tetapi dia juga harus diawasi dan dikritisi supaya menjadi pemimpin yang bijaksana serta membuat wajah ibu kota menjadi lebih baik.
Meskipun Ahok ngevlog gak ada maksud untuk mengkritisi Anies, tetapi menurut saya itu seharusnya menjadi tantangan tersendiri bagi Anies untuk melakukan hal-hal yang lebih baik dari apa yang telah dilakukan Ahok.
Tanpa disadari Ahok justru menekan Anies untuk mencontoh apa yang dilakukannya secara nyata untuk warga DKI Jakarta. Ia justru secara tidak langsung ingin mengajarkan para kepala daerah tidak serta merta terpaku pada APBD.
Kalau kita boleh membandingkan dengan zamannya Aneis, saya rasa cukup bertentangan, misalnya terkait Tim yang dipilih Anies begitu banyak dan dibayar menggunakan APBD, sedangkan dulu Ahok membayar orang menggunakan dana operasional yang menjadi haknya.
Atau contoh lainnya, ketika Anies menggunakan uang rakyat untuk mensponsori kegiatan Ratna Sarumpaet yang akan pergi ke Chile, padahal hal tersebut dianggap gak memberikan dampak apa-apa bagi masyarakat DKI Jakarta.
Menurut saya, saat ini Anies adalah Gubernur seluruh warga DKI Jakarta, dia memiliki kewajiban untuk mengembalikan kelompok-kelompok yang pernah terbelah karena perbedaan pilihan pada pilkada DKI Jakarta yang lalu, karena ketika Anies dengan legowo mau belajar ataupun merangkul Ahok, saya yakin hal tersebut akan menyadarkan para pendukungnya yang dulu menggunakan sentimen SARA.
Jika Anies akrab dengan Ahok, saya yakin yang stres bukan para Ahoker tetapi orang-orang yang dulu terprovokasi terkait isu SARA yang menjatuhkan Ahok.
Karena pilkada sudah selesai, saya rasa baik adanya jika Anies menunjukkan bahwa dia ingin membangun DKI Jakarta, bagaimana pun caranya termasuk dengan mau belajar pada Ahok. Gak perlu gengsi, jika memang diperlukan untuk kebaikan Jakarta, Anies seharusnya mengorbankan gengsi tersebut demi kebaikan warg DKI Jakarta.
Kalau Anies melakukan hal tersebut, maka saya akan angkat topi dan menganggap Anies memiliki tanggung jawab moral yang tinggi untuk mewaraskan masyarakat dan juga membuka kedewasaan masyrakat untuk berdemokrasi dengan baik.
Jika Anies masih menganggap Ahok sebagai musuh meskipun pilkada sudah berlalu, hal tersebut justru akan menimbulkan persepsi bahwa Anies bukanlah pemimpin yang baik karena Anies dianggap menang pilkada menggunakan isu SARA, atau paling tidak meskipun isu SARA tersebut tidak dihembuskan olehnya, tapi dia dianggap menikmati isu SARA tersebut demi meraih kekuasaan.
Setiap kejadian akan dicatat oleh sejarah. Terkait sejarah yang seperti apa yang ingin digoreskan Anies, itu semua tergantung pilihannya. Tetapi yang perlu diingat oleh Anies Baswedan, dulu Soeharto dianggap sebagai bapak pembangunan di masanya, namun saat ini dia dianggap sebagai pemimpin diktator terkorup di dunia pada abad 20, kalaupun sekarang Anies menganggap dirinya sebagai gubernur pilihan umat, tapi apakah masih yakin di masa depan dia dianggap seperti itu? Udah ah, itu aja...

#JokowiLagi
https://news.detik.com/berita/d-4400348/kagum-dengan-simpang-susun-semanggi-ahok-puji-eks-kadis-bina-marga-dki

No comments

Powered by Blogger.