Makin Panas! Prabowo Digembosi Rizieq Shihab, Hashim Sebut FPI-HTI ‘Ngemis’ Ke Prabowo!


Berita Terkini - Menyadari bahwa Prabowo tengah digembosi oleh Rizieq Shihab seperti yang diulas dalam artikel sebelumnya, Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra langsung bereaksi keras dengan menjelaskan ‘keadaan yang sebenarnya’ hingga ormas seperti Front Pembela Islam (FPI) dan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) mendukung sikap politik Prabowo yang berasal dari keluarga Kristen.

Di Gedung Bhayangkari, Jalan Senjaya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra tersebut mengatakan bahwa bukan dirinya atau Prabowo atau keluarga yang meminta bantuan FPI dan HTI, melainkan dua ormas tersebut yang menawarkan dukungan kepada mereka.

"Yang sering ditanyakan kepada kami kepada saya kenapa keluarga saya atau Prabowo dan saya bekerja sama dengan FPI dan HTI? Saya mau jelaskan disini bukan kami meminta bantuan mereka, mereka menawarkan dukungan kepada kami," ujar Hashim.

Ucapan Hashim tersebut senada dengan yang dikatakan Prabowo sendiri beberapa waktu yang lalu seperti dikutip dari tribun timur.com.

"Jadi ada upaya selalu mencari-cari kesalahan, suatu saat saya dibilang Islam garis keras, besoknya saya dibilang kurang Islam," ujar Prabowo Subianto dalam Konferensi Nasional Partai Gerindra yang digelar di Sentul International Convention Center (SICC), Sentul, Bogor.

Baca juga : Tim Prabowo-Sandi Bingung Cari Bahan Jatuhkan Jokowi-Ma'ruf

Semua hal tersebut di atas diucapkan Hashim Djojohadikusumo, setelah sebelumnya mengatakan menerima segala bentuk dukungan untuk kakaknya yang juga sekaligus Capres RI nomor urut 2, Prabowo Subianto, termasuk dari anak - cucu simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI).

"Kami akan terima dukungan darimanapun kecuali iblis, kecuali setan yang lain kami terima, Prabowo terima. Bahkan anak dan cucu (anggota) PKI pun, cicit PKI, kami akan terima dukungannya," ujar Hashim.

Menanggapi hal tersebut, Ketua DPP Hanura Inas Nasrullah mengatakan Wakil Ketua Dewan Pembina Gerindra Hashim Djojohadikusumo lebih tertarik pada keluarga simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI) dibandingkan dengan Front Pembela Islam (FPI) dan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Inas mengatakan hal itu tersirat dari pernyataan Hashim beberapa waktu lalu.

"Dari perkataan Hashim Djojohadikusumo tersebut sangat jelas sekali tersirat bahwa baik Prabowo maupun Hashim samasekali tidak tertarik dengan FPI maupun HTI, tapi justru FPI dan HTI lah yang menggebu-gebu menawarkan diri mereka kepada Prabowo," ucap Inas kepada wartawan, Rabu (30/1/2019).

Ucapan Hashim yang dimaksudnya ialah saat adik Prabowo Subianto itu bicara di gedung Bhayangkari, Minggu (27/1). Saat itu Hashim menjelaskan alasan dirinya bekerja sama dengan FPI dan HTI karena dua organisasi masyarakat tersebut yang menawarkan dukungan.

Inas merasa heran dengan pernyataan tersebut. Sebab FPI dan HTI kelihatan total mendukung pemenangan Prabowo-Sandiaga. Di sisi lain, belum ada keluarga simpatisan PKI yang menyatakan dukungan kepada pasangan nomor urut 02 itu.



"FPI dan HTI nampaknya sangat menggebu-gebu ingin diakui sebagai relawan pemenangan Prabowo-Sandi yang militan oleh Prabowo Subianto dan Hashim Djojohadikusumo, tapi sayangnya harapan mereka tersebut sepertinya tidak dipandang sebelah matapun oleh Hashim, karena bisa saja penyebabnya adalah label Islam dalam organisasi-organisasi tersebut," ucapnya.

"Yang perlu dijadikan pertanyaan adalah, mengapa Prabowo dan Hashim lebih tertarik dukungan dari anak cucu simpatisan PKI ketimbang dukungan FPI dan HTI? Padahal selama ini FPI dan HTI sudah berjuang habis-habisan untuk Prabowo Subianto!" sambung Inas.

Pertanyaan Inas memang patut dilayangkan, karena berdasarkan hasil survei yang digelar Indikator Politik Indonesia pada 16-26 Desember 2018 menunjukkan sebagian masyarakat Indonesia menyatakan PKI sedang berusaha bangkit kembali dan mengancam negara. Keyakinan itu berhubungan dengan pilihan mereka di Pilpres 2019. Dengan kata lain, rumor "PKI bangkit" adalah isu partisan.

Begitu juga dengan hasil survey pendahulunya yang dilakukan oleh Lingkaran Survei Indonesia (LSI) dan Australia National University (ANU) yang digelar pada akhir Desember 2017 hingga awal Januari 2018, menunjukkan gejala partisan terhadap isu "PKI bangkit" juga hadir di para anggota partai yang kini duduk di DPRD.

Hasilnya, menurut laporan Diego Fossati dan Eve Warburton dalam "Indonesia's Political Parties and Minorities" (2018), survei tersebut mengungkap 43 persen anggota DPRD percaya PKI sedang berusaha bangkit, sementara 57 persen lainnya tidak percaya. Di kelompok mereka yang percaya, sebanyak 95 persen merasa PKI mengancam negara.

Sebagian besar anggota DPRD Provinsi dari tiga partai pengusung Prabowo-Sandiaga, yakni PAN (79 persen), PKS (73 persen), Gerindra (67 persen), yakin PKI berusaha dan telah bangkit lagi.

Bagaimanapun juga, air dengan minyak memang sukar untuk menyatu secara alami. Bahkan bila dipaksakan, tetap saja akan kelihatan watak aslinya masing-masing.

Kecuali mereka semua adalah para munafik yang benar-benar mati total hati nuraninya, maka FPI dan HTI yang memiliki rekam jejak sangat anti PKI tentu saja tak akan bisa terus langgeng hubungannya dengan grup Prabowo, yang nyata-nyata menampung suara PKI.

Tapi bisa saja semua aturan moral, agama serta terutama sekali kemanusiaan tersebut telah luntur digerujuk kardus serta godaan jabatan. Seperti PKS dan PAN yang tetap bersama Prabowo walau turut menampung suara PKI.

Bisa saja, FPI dan HTI pun idem ditto alias sama juga, tetap bangga mengawal Prabowo capres penampung suara PKI tersebut, tak peduli meski harga diri telah terinjak-injak karena dianggap ‘ngemis-ngemis’ mendekati Prabowo.

Apakah itu berarti kardus Sandi telah terbang pula ke Arab Saudi sejak lama?

Who knows.

No comments

Powered by Blogger.