Kejam!!! Sandiwara Uno Yang Terbongkar, Wanita Lagi-Lagi Jadi Korban Eksploitasi Politik Prabowo-San...


Berita Terkini - Sebenarnya saya bingung apa pengaruhnya orang nangis minta foto sama cawapres terhadap elektabilitas cawapres tersebut? Apakah agar kelihatan dicintai rakyat? Apakah agar kelihatan sangat disanjung rakyat?

Saya tidak merasa perlu ketika seorang ibu-ibu atau wanita atau siapa pun menangis berjumpa dengan Jokowi. Bagi saya itu hal biasa saja. Jangankan presiden artis Korea saja banyak ditangisi oleh fansnya, bahkan ada yang tampak histeris. Apakah itu yang mau digambarkan Sandi?

Ada atau tidak ada yang menangis, itu tidak akan mengubah pilihan orang lain terhadap cawapres. Dengan melihat seseorang menangis kepada capres-cawapres, orang tidak akan langsung berubah pilihan. Percayalah! Bahkan ada yang akan merasa apatis. Itu masih nangis alamiah.

Apalagi kalau ada seorang ibu-ibu muda yang nangis-nangis ke cawapres dan ketahuan sebagai sandiwara, wah bukan hanya membuat orang apatis, melainkan semakin membuat orang jijik dan kasihan. Bagaimana tidak kasihan, agar kelihatan digandrungi ibu-ibu pun harus membuat sandiwara terlebih dahulu.

Baca juga : Malu Banget! Pernyataan Prabowo Hari Ini Dibantah Habibie Sejak 19 Tahun yang Lalu!

Awalnya sih kampret-kampret sudah begitu sangat bangga dengan video yang beredar di media sosial. Mereka memuji-muji Sandi seolah-olah sandi sudah jadi idola ibu-ibu sejagat raya. Mereka gembar-gemborkan ke sana ke mari.

Tetapi ternyata video itu hanyalah sandiwara. Si ibu ternyata sudah dekat dengan Sandi. Hal ini diketahui dari foto yang beredar di media sosial. Pun ibu itu ternyata bagian dari tim sukses yang sudah pernah duduk bersama dengan Sandi. Masuk akalkah seorang fans akan menangis terharu biru padahal sudah pernah duduk bersama.


Sebenarnya dari video yang beredar pun sejatinya sandiwara itu sudah terasa. Sebelum foto beredar, saya sudah pernah melihat videonya. Yah dramanya tidak terlalu meyakinkanlah menurut saya. Mungkin itulah sebabnya netizen membongkar sandiwara kebohongan ini.

Tetapi selain dari sandiwara yang sangat menjijikkan itu, saya mau menyoroti soal peran wanita dalam sandiwara itu dan peran wanita dalam kubu Prabowo-Sandi.

Apa kata suami dan anak-anaknya – kalau sudah menikah dan punya anak – ketika tahu bahwa ibunya bersandiwara demi politik? Saya tidak bisa bayangkan ketika anakku tahu bahwa aku bersandiwara pura-pura menangis demi orang lain yang bukan siapa-siapaku seolah-olah berjumpa dengan dia adalah segalanya bagiku. Malu, mungkin itulah perasaan suami dan anak-anaknya. Kecuali suami dan anak-anaknya juga bagian dari sandiwara itu.

Apa kata tetangga dan kenalannya kepada keluarganya? Apakah mereka akan bangga? Atau apakah mereka akan memuji si ibu? Si ibu itu dalam hal ini telah dimanfaatkan sedemikian rupa demi tujuan politik.

Kejadian yang sama juga sudah pernah terjadi, bahkan lebih parah. Salah satu korban eksploitasi wanita dalam strategi politik Prabowo-Sandi adalah Ratna Sarumpaet. Mereka memanfaatkan keberpihakan Ratna terhadap mereka untuk menciptakan kegaduhan di negeri ini. Mereka tetap konferensi pers walau Ratna sudah menolak.

Mereka ini tidak mendengarkan Ratna. Andaikan mereka tidak konferensi pers, rasa malu Ratna mungkin tidak sedemikian rupa. Kini apa yang terjadi dengan Ratna? Mendekam di penjara. Saya yakin Ratna sendirilah yang tahu apa yang terjadi sebenarnya. Dan dia sendirilah yang tahu rasanya dibuang setelah dimanfaatkan. Habis manis sepah dibuang, itu menyakitkan cek gu!

Sepertinya sudah menjadi tabiat kubu Prabowo-Sandi memanfaatkan wanita dalam strategi politik mereka. Sudah menjadi kebiasaan mereka mengeksploitasi wanita demi nafsu berkuasa. Bagi mereka, wanita hanyalah alat dalam politik, tidak lebih tidak kurang.

Jangan bilang, wanita itu yang goblok kog mau dijadikan alat politik, kog mau disuruh berbohong, kog mau disuruh pura-pura nangis. Jangan bilang begitu, please. Dalam kasus si wanita menangis, akan sangat lucu kalau yang menangis adalah laki-laki. Dan memang tujuan dari sandiwara itu untuk menyasar kaum wanita sesuai dengan tagline mereka ‘emak-emak zaman now’. Wanita itu mau seperti itu karena memang situasi dan strategi memaksanya demikian.

Sama seperti kasus Ratna Sarumpaet. Dia melakukan itu karena situasi dan strategi memaksanya harus berbohong. Kebetulan dia oplas, lalu dianggap tepat untuk memojokkan pemerintah, dan dia kemudian dieksploitasi sedemikian rupa. Kenapa bukan muka tembem Fadli Zon aja yang dioplas agar kisut sedikit lalu dikatakan digebuki? Karena posisi Fadli Zon tidak sekuat posisi Ratna untuk menyampaikan pesan ke publik. Berita ‘wanita tua digebuki’ akan sangat menggugah simpati publik. Dari pada berita ‘Fadli Zon digebuki’, ya publik akan pesta pora karena senangnya.

Dan anehnya, entah kenapa begitu, wanita korban eksploitasi itu, seolah senang dengan eksploitasi terhadap dirinya. Saya katakan seperti itu, karena dia mau.

No comments

Powered by Blogger.